Dharma Negara Alaya (DNA) tampak berbeda di akhir pekan, puluhan masyarakat mulai dari anak – anak hingga orang dewasa nampak lalu lalang menaiki tangga menuju sebuah tujuan. Gaya berpakaian ala skena dengan dominasi pakaian berwarna hitam, dipadupadankan dengan sepatu boots maupun sneakers, aksesoris yang mempermanis atasan maupun bawahan yang dikenakan, serta tentu saja nampak goresan tinta yang dikenal sebagai tato tercetak penuh konsep seni di kulit mereka. Denpasar Tattoo Contest 2023 menjadi sebuah momentum bagi seluruh seniman tato di Kota Denpasar berkumpul menampilkan bakat terbaik dalam mengkreasikan tato sebagai seni tubuh abadi. 

Bertempat di Gedung DNA, puluhan masyarakat tampak menyambut antusias pelaksanaan kompetisi tato yang diselenggarakan oleh gerakan kolektif seniman tato  Ink Movement. Beragam mata acara turut dirangkai dengan apik untuk memanjakan peserta serta pengunjung yang hadir. Pengunjung yang hadir akan disambut pertama dengan karya – karya elok dari seniman tato legendaris melalui kegiatan exhibition dan competition yang dilaksanakan oleh Inkdonesia Movement. 

Deretan hasil karya desain tato di Tatto Artist Exhibition yang dipajang di sepanjang ruang eksibisi Dharma Negara Alaya (DNA)

Putu Agus   Eka Putra Santika, selaku inisiator dari Denpasar Tattoo Contest 2023 menjelaskan terkait konseptualisasi kegiatan yang diselenggarakan selama dua hari tersebut, “Konsep di dua hari tersebut sebenarnya sama, tetapi dibedakan dari kategori, yang kemarin itu black and grey surealist dan black work ornament, sekarang color neotrad newschool dan asian style, sekarang kita ada talkshow kita mendatangkan tatto artist legend Bali itu namanya Pak De Wangaya yang sudah nato dari tahun 77, kita mendatangkan untuk ngobrol dan mendatangkan kilas balik bagaimana era pada masa itu,” Ungkap Santika atau yang akrab disapa Kink (15/10).

Kink selaku inisiator dari Denpasar Tatto Contest 2023 menceritakan konsep kegiatan selama dua hari penyelenggaraan di booth tato miliknya

Kegiatan eksibisi yang dilaksanakan secara indoor tersebut diisi oleh 17 seniman legendaris dengan keunikan guratan desain tato serta teknik aplikasi tato masing – masing, antara lain Kink dari Kinktattobali, Lolit Made dari Balitattooartgallery, July Arthaya dari Burgeon Blue Tattoo, Marmar dari Sangmong Tattoo Studio, Herpianto Hendra dari Fox Mulder Tatttoo, Viona Mallory dari Karma Mantra, Romi dari Rohornament, Deni Sentani dari Tridatu Tattoo, Prima dari Matatto Bali, Ode Surya dari Better Days Tattoo, Ibnu Suharyo  dari Tapawana Radjah Nusantara, Kadek Ngurah Mertayana dari Blur Tattoo Studio, Eka Mardys dari Sekala 369, Hendro Dewisura dari Luxuryink, Nyoman Hendra Permana dari Buch Tattoo, Lionk Irezumi dari Luxuryinkbali serta Dode Pras dari Lumina Tattoo Studio.  

Kink turut menyampaikan melalui kegiatan eksibisi tersebut bahwa Bali menyimpan banyak seniman – seniman lokal yang telah mendunia,  ”kita mau menginfokan dan mengkampanyekan kepada masyarakat bahwa kita di Bali ini punya banyak sekali artist lokal kita sudah sekaliber internasional, banyak yang sudah sering juara di tingkat internasional, banyak yang sudah sering diundang untuk tato expo di luar negeri, jadi itu yang ingin kita up bahwa tato bukan hanya dari negatifnya saja tetapi ini merupakan UMKM yang bisa membuat roda perekonomian bagus dan menyerap tenaga kerja,” Ungkapnya. 

Mulai dari mesin tato modern hingga tradisional turut memukau serta mengisi kemeriahan exhibition di Gedung DNA. Salah satunya teknik pembuatan tato tradisional dari Tapawana Studio yang turut menjadi daya tarik pengunjung di eksibisi tersebut. Ibnu Suharyo atau yang akrab disapa Wana mencoba mengenalkan kembali teknik pembuatan tato dengan alat tradisional khas suku dayak “pada eksibisi ini saya menggunakan hand tapping, teknik hand tapping itu tidak pakai mesin, kita pakai dua kayu yang salah satu bagiannya ada jarum dan kita ketuk, teknik hand tapping itu teknik tradisi nusantara yang dimiliki dari Dayak, dari Mentawai, Kalimantan, jadi teknik ini kami kembangkan lagi di dunia tato, saya ingin memperkenalkan kembali teknik leluhur dalam seni tato yang mungkin banyak orang mengenal dengan mesin, sedangkan dari jaman dulu kala tato sudah ada dengan teknik hand tapping” ungkap Wana pada wawancara Sabtu (14/15).  

Teknik Hand Tapping sebagai salah satu seni pembuatan tato tradisional khas suku Dayak, Mentawai, Kalimantan yang dibawa oleh Tapawana Radjah Nusantara pada Tattoo Artist Exhibition

Teknik hand tapping bagi Wana saat ini memang sudah tidak menjadi pilihan utama bagi pelaku seni tato mengingat proses pembuatan tato yang membutuhkan waktu lebih lama dibandingkan menggunakan mesin, selain itu juga desain yang akan dibentuk pada kulit  juga tidak bisa terlalu kompleks. Melalui kegiatan D’Youth Fest 3.0 bersama Ink Movement ini, Wana turut mengapresiasi momentum yang disediakan sehingga dapat mengenalkan kembali seni tato tradisional serta perkembangan seni di Denpasar. “Jujur aku sangat terkesan ikut acara D’Youth ini karena satu – satunya pemerintah daerah yang mau mendukung kesenian tato sekarang, sebelum – sebelumnya kita independent dan harapan saya pemerintah Indonesia perlu memikirkan seni tato agar bisa lebih disupport lagi, mungkin seni tato identik dengan kenakalan, kriminalitas tapi engga ini adalah industri seni yang sangat bagus” tutup Wana.  

Hasil karya seni tato nusantara yang dibuat dengan teknik hand tapping

Selepas meremajakan mata melalui karya seni tato legendaris di Tattoo Artist Exhibition, pengunjung turut dipukau dengan desain – desain tato dari kontestan yang tengah mengikuti ajang Denpasar Tattoo Contest yang juga diselenggarakan oleh Ink Movement. Denpasar Tattoo Contest tidak hanya menjadi sebuah perlombaan semata namun menjadi sebuah gerakan kolektif untuk mengkampanyekan kesenian tato, peserta yang berpartisipasi pun tidak hanya seniman lokal Denpasar namun juga diisi oleh seniman dari seluruh penjuru Bali dan luar Bali.  

Proses pembuatan tato oleh salah satu peserta yang tengah mengikuti Denpasar Tattoo Contest

I Kadek Mahendra selaku peserta turut menyampaikan motivasinya selama mengikuti kegiatan Denpasar Tattoo Contest 2023 tersebut. Baginya kegiatan – kegiatan seperti ini sangat bermanfaat khususnya menambah teman, relasi serta menambah wawasan seputar tato, “Saya merasakan tiap tahunnya melalui kegiatan ini pastinya menambah teman, setiap orang yang ikut pasti beda – beda jadi disana kita bisa improvisasi diri dimana kekurangan kita membuat tato, motivasi saya tentu saja menambah teman dan melatih skill” ucap Mahendra yang akrab disapa Jhon pada wawancara Sabtu (14/10). Ia turut menyampaikan kesan dan harapannya selama mengikuti kegiatan selama dua hari tersebut,”Merasa bangga bisa mengikuti acara kaya gini dan harapannya ya semoga tato tidak dipandang kriminal oleh masyarakat apalagi zaman sudah maju, teknologi sudah canggih, tato itu bukan hal yang kriminal tetapi sebuah seni” ungkapnya. 

Acara yang berlangsung selama dua hari tersebut disambut antusias oleh masyarakat, hal tersebut dibuktikan dari padatnya pengunjung di venue indoor dan outdoor Gedung DNA. Denpasar Tattoo Contest turut dimeriahkan dengan talkshow yang menghadirkan seniman – seniman tato legendaris untuk berbagi pengalaman seputar tato, antara lain Dodepras dari Lumina Tattoo Studio, marmar dari Sangmong Tattoo Studio, serta Seniman tato yang telah melebarkan sayap dari tahun 70 – 90 an Pak De Wangaya. 

Seniman tato legendaris mulai dari Marmar dari Sangmong Tattoo Studio hingga Pak De Wangaya seniman tato tahun 70-an turut menyemarakkan sesi talkshow di Denpasar Tattoo Contest 2023

Pak De Wangaya turut menceritakan perkembangan tato pada era awal ia mengembangkan di Bali,  “Sejak pertama kali saya bikin tato tahun 75 masih pakai alat manual dengan gagang kayu, berlanjut sampai bisa merakit sendiri mesin hingga tahun 83 akhirnya menggunakan mesin dengan hasil yang lebih bagus hingga pada akhirnya berkembang, namun perkembangannya tidak pesat, pada saat itu banyak pantangan, pada tahun itu tato dianggap kriminal, pada tahun 1984, setiap hari ada berita di koran pasti ditemukan mayat bertato, sehingga menyebabkan sepinya kembali usaha tato. Tahun 90-an lancar kembali hampir bangkit kembali, ada kejadian lagi bom bali I yang menyebabkan tato kembali sepi”ungkapnya. 

Pak De Wangaya turut menyampaikan harapannya akan perkembangan tato kedepannya, “Saya berharap tato ini diakui sebagai seni bukan kriminal, dulu saya buat kontes tato dilarang pada tahun 90 namun sekarang sudah bebas” menutup wawancara pada Minggu (15/10). Baginya perkembangan tato saat ini cukup diterima sehingga masyarakat khususnya pelaku seni tato dapat mengadakan kegiatan yang mewadahi seniman – seniman lokal. 

Kegiatan Denpasar Tattoo Contest 2023 pada Hari Minggu tersebut ditutup dengan pemilhan 5 besar peserta terbaik dari kontes tato dari kategori black and grey dan black work ornament, antara lain  Ketut Sandi dari Angel Eyes Tattoo, Broangga Tattoo dari Gold Gold Tattoo Bali, Tattoist Deka dari MTS Ink, Arisaninktattoo dari San Ink Tattoo, serta Aguzbegow. 5 kontestan terbaik lainnya turut dipilih untuk kategori color neotrad newschool dan asian style antara lain, Ketut Sandi dari Angel Eyes Tattoo, Yunadi dari Chytattoo Studio, Pande Krisna dari Bali Paradise Tattoo, San Ink dari San Ink Tattoo, serta HRSK.Ink Tattoo. 

Seluruh peserta terbaik nantinya akan mengikuti babak final di puncak acara D’Youth Fest 3.0 pada tanggal 20 – 21 Oktober 2023 nanti. Seluruh rangkaian kegiatan yang diadakan selama dua hari oleh Ink Movement tersebut, ditutup dengan alunan musik dari Gold Voice serta dendangan musik dari Pemoeda Soeka Karaoke. Denpasar Tattoo Contest yang menjadi rangkaian awal D’Youth Fest 3.0 tersebut menjadi sebuah perayaan bagi seluruh seniman – seniman tato di Kota Denpasar untuk berani mendobrak stigma dan menyuarakan bahwa tato bukanlah sebuah bentuk kriminalitas melainkan sebuah seni tubuh yang abadi.

Write A Comment