20231020_Main Stage_Semarak Penonton (1)
Media Release

D’Youth Fest 3.0 Usai Digelar, Generasi Muda Kota Denpasar Sampaikan Terimakasih dan Harapan agar Digelar Kembali Tahun Depan

Sebuah gelaran festival bernuansa anak muda terselenggara tepat di creative hub Kota Denpasar, Lapangan Lumintang turut menjadi saksi perayaan D’Youth Fest 3.0 yang telah mencapai puncak acara. Ragam kegiatan yang terbagi dengan baik kedalam 8 segmen pemanggungan turut dipadati ribuan pengunjung, stand UMKM mulai dari tenant hingga food truck nampak membuat antrian cukup panjang.. Pos penjualan tiket yang nampak tak sepi mulai dari pagi hingga malam, menyiratkan antusias masyarakat yang mencapai total pengunjung 14.236 selama dua hari penyelenggaraan. Seluruh masyarakat nampak antusias menapaki ragam mata acara yang disajikan pun juga ingin berkenalan dengan ragam hasil karya komunitas kreatif yang membangkitkan kreativitas dalam diri. 

Suasana pengunjung yang tampak ramai menanti pementasan di mulai pada hari kedua D’Youth Fest 3.0

Mulai dari merasakan otentiknya seni cetak fotografi tertua di dunia, hingga membuka wawasan melalui pendekatan screening film, membuat mini vlog, hingga talkshow block chain.  Pangging community area hingga Makin Dekat Film Festival,  menjadi sebuah kesempatan bagi  anak muda untuk menampilkan hasil karya melalui sebuah seni audiovisual dengan sajian yang menggugah edukasi, apresiasi, kompetisi, literasi melalui sebuah eksibisi film.

 Anak Agung Gede Rai Putra Bawantara selaku inisiator Denpasar Documentary Film Festival (DDFF) yang mengisi ruang perfilman di festival ini turut memberikan tanggapannya akan ruang kreativitas yang disajikan oleh D’Youth Fest 3.0, “Pagelaran D’Youth Fest 3.0 harapannya akan membuka peluang bagi masyarakat yang ingin mengulik lebih dalam mengenai dunia perfilman khususnya di Pulau Bali” ungkap Bawantara. 

Suasana pengunjung yang sedang menikmati pemutaran Film Mesatya di Panggung Makin Dekat Film Festival 

Berlanjut ke panggung Festival Teater Remaja Masa Kini yang tak kalah padat dengan panggung lainnya, antusiasme remaja di Kota Denpasar yang tergabung ke dalam komunitas teater, mulai dari tingkat sekolah menengah hingga perguruan tinggi, turut bergabung dan berkolaborasi menciptakan panggung seni peran yang elok di Taman Kota, penonton pementasan mulai dari anak – anak hingga orang tua pun turut terhibur dan nampak satu persatu mengisi ruang lengang yang tersisa di lapangan untuk dapat menikmati sajian pementasan dari 8  komunitas  teater yang tersebar di seluruh Kota Denpasar. 

Suasana pengunjung yang sedang menikmati pemutaran Film Mesatya di Panggung Makin Dekat Film Festival 

Benny Dipo selaku event director Festival Remaja Masa Kini menyampaikan bagaimana D’Youth Fest 3.0 menjadi kesempatan yang baik bagi komunitas – komunitas teater di Denpasar untuk mengepakkan sayap ke kancah yang lebih luas, “kami mengucapkan terima kasih kepada pemerintah karena telah mewadahi kreativitas anak muda terutama di bidang seni pertunjukan, saya berharap di tahun depan akan ada D’Youth Fest 4.0, D’Youth Fest 5.0, yang bisa mewadahi kembali, mungkin bisa lebih dari dua hari ya, mungkin bisa tiga atau bahkan satu pekan, atau bahkan sebulan” ungkap Benny yang juga bagian dari Komunitas Teater Kini Berseri yang turut tampil di panggung teater D’Youth Fest hari kedua. 

Masih di tempat yang sama, panggung kreativitas E-Sport Indonesia (ESI) Denpasar, juga diisi oleh pengunjung yang memiliki minat dan bakat di bidang E-Sport, Andra salah satu peserta kompetisi E-Sport dari SMA Negeri 11 Denpasar merasa senang dengan adanya penyediaan ruang bagi anak muda terkhusus minat di bidang E-Sport, “Seru, bisa masuk semifinal disini, tentu aja kegiatan ini bermanfaat bagi kami karena dapet pengalaman baru, membangun chemistry dengan tim, dan dapet cuan buat bekel diri sendiri” antusias Andra menceritakan pengalamannya mengikuti ajang di D’Youth Fest 3.0 tahun ini. 

Peserta yang sedang berlaga di kompetisi E-Sport di panggung ESI Denpasar pada hari kedua D’Youth Fest 3.0

Berpindah ke Lapangan Lumintang sebagai pusat utama panggung, komunitas kreatif dan berkumpulnya puluhan UMKM yang tersebar di Kota Denpasar menjadi saksi antusias masyarakat akan pagelaran seni kreatif karya anak muda. Sebanyak lebih dari 61 Komunitas tergabung ke dalam perayaan festival anak muda di Kota Denpasar kali ini.  melalui panggung Youth Land, komunitas dan masyarakat turut bertemu untuk bertukar pendapat, berbagi ilmu melalui serangkaian talkshow hingga workshop. 

Proses merajut benang di Workshop Crochet yang terselenggara di Panggung Youth Land 

 Tak hanya dirasakan oleh pemilik komunitas,  namun penyelenggaraan  D’Youth Fest 3.0 juga memberikan dampak bagi mereka yang mengikuti kegiatan, contohnya Nisma, yang merupakan salah satu dari peserta workshop Makrame yang berawal dari penasaran, “Sangat menyenangkan dapat pengetahuan baru, tentu bisa bantu UMKM yang berjualan juga dengan belanja” ungkapnya.

Peserta Workshop Makrame yang menunjukkan hasil makramenya pada hari kedua D’Youth Fest 3.0 di Youth Land 

 Komunitas kreatif lainnya yang turut bergabung yaitu Komunitas Toekang Cukur Bali, yang mewadahi pemuda kreatif lokal Bali yang bergelut di dunia tukang cukur dengan menggelar Talkshow Barberbagi: Sharing Barber Community, bagi Yogeswara Chandra selaku wakil dari komunitas, turut menyampaikan panggung yang diberikan tidak memberikan manfaat kepada komunitas namun juga kepada peserta yang hadir yang ingin belajar. 

Sesi Talkshow Barberbagi yang diselenggarakan di Youth Land 

Kreativitas lainnya turut diwadahi dalam pelaksanaan D’Youth Fest tahun ini melalui panggung bermusik, salah satunya Mini Stage. 15 musisi anyar tergabung selama dua hari untuk menyajikan karya terbaik mereka kepada pengunjung yang hadir. Panggung Mini Stage di hari kedua pun tak henti menampilkan komunitas kreatif mulai dari kompetisi panco oleh komunitas ISFP, penampilan cosplay melalui acara coswalk competition, hingga berdendang dengan musik dari band The Rog hingga Little Isekai. 

Penampilan Band Moondial di panggung Mini Stage 

Revival sebagai salah satu band yang baru terbentuk turut menyampaikan apresiasinya terhadap panggung D’Youth Fest 3.0 kali ini, “tentu saja kami sudah bagus sekali panggung kali ini, harapannya makin open jadi anak muda punya wadah untuk berekspresi, mungkin lebih ditambah waktu pelaksanaannya, atau penyelenggaraannya bisa tiap bulan” ungkap Revival. 

Revival sebagai salah satu band anyar turut mengisi kemeriahan panggung Mini Stage di Lapangan Lumintang 

Kesempatan tidak hanya kepada komunitas, tetapi juga UMKM yang tergabung di dalamnya. Lebih dari 40an UMKM turut merasakan dampak dari penyelenggaraan D’Youth Fest tahun ini, salah satunya disampaikan oleh Putu Wahyu Saputra selaku pemilik usaha Ayam Bakarku, “tahun ini dyouth fest keren banget, jadi banyak banget membantu UMKM khususnya ayam bakarku yang lagi mau berkembang melalui open space secara gratis, dan juga melalui kegiatan ini UMKM terbantu  branding sehingga nantinya bisa bersaing dengan brand luar” ungkap Putu. 

Pelaksanaan D’Youth Fest 3.0 yang harapannya dapat membawa perputaran ekonomi kreatif di Kota Denpasar turut dibuktikan melalui akumulasi data dampak ekonomi dalam 1 bulan penyelenggaraan  mulai dari pre-event, main event, hingga post-event, yang mencapai 1,02 Miliar. Menjadi sebuah kesempatan bagi pengadaan D’Youth Fest tahun berikutnya untuk harapannya kembali hadir dengan konsep dan ragam mata acara yang lebih meriah, tentu dengan jangkauan  kolaborasi yang leih luas lagi. 

Walikota Denpasar, I Gusti Ngurah Jaya Negara, S.E. mengunjungi stand UMKM di Lapangan Lumintang 

Suasana di penghujung acara D’Youth Fest 3.0 hari kedua,  kian meriah dikala ribuan masyarakat nampak memadati panggung Main Stage, mulai dari Naviculla, Lolot, hingga Superman Is Dead (SID) iringan musik legendaris turut menarik pengunjung untuk berkumpul dan merayakan panggung terakhir D’Youth Fest tahun ini. vokalis Naviculla, Gede Robi turut menimpali bahwa sebagai kota kreatif, Denpasar beruntung memiliki perhelatan D’Youth Fest ini. “D’Youth merupakan wadah bagi para pelaku industri kreatif untuk mengembangkan potensi dan daya saing ekonomi sehingga dapat dikatakan pula bahwa D’Youth ini merupakan ruang ekspresi agar interaksi senantiasa terjalin terutama dalam ruang lingkup Kota Denpasar,” ucap Robi Navicula ketika ditemui di Back Stage. 

Penampilan Band Naviculla di Main Stage pada hari kedua D’Youth Fest 3.0 

Penyelenggaraan D’Youth Fest 3.0 menjadi sebuah perayaan dan bentuk apresiasi terhadap anak muda yang telah mendorong stimulus kreativitas melalui pembentukan komunitas – komunitas kreatif. Pelaksanaan selama dua hari harapannya akan terus ditingkatkan agar dapat mewadahi kreativitas tanpa batas yang diciptakan untuk anak muda penggagas perubahan, dan tentu saja keberhasilan D’Youth Fest menjadi sebuah awalan untuk konsisten berkolaborasi bersama komunitas, sehingga seterusnya dapat menghasilkan karya yang dapat dibagikan kepada khalayak luas. 

20231021_Pemutaran Film Mesatya (1)
Media Release

Makin Dekat Film Festival : Ajaibnya Sinema Merekonstruksi Realita

Pemutaran film Mesatya Telusur Puputan Badung pada helatan Semakin Dekat Film Festival di Taman Kota Denpasar Sabtu (21/10)

Dibuka dengan workshop cyanotype yang mengajak pengunjung merasakan otentiknya seni cetak fotografi tertua di dunia. Makin Dekat Film Festival hadir dengan konsep segar yang membuka wawasan pengunjung tentang ekosistem perfilman melalui berbagai pendekatan mulai dari screening, mengupas cara membuat mini vlog hingga talk show crypto dan blockchain. Bertempat di Taman Kota Denpasar, kegiatan ini turut mengambil bagian dari ruang kreatifitas yang disediakan D’Youth Festival 2023. 

Workshop mini vlog oleh Ayu Tia Staff Tim Kreatif Dharma Negara Alaya berlangsung interaktif.

Besarnya potensi sumber daya saat ini mendukung tumbuhnya industri kreatif, salah satu yang paling potensial adalah industri perfilman. Putu Lengkong Yuliarta Ketua Pelaksana Harian Bkraft Kota Denpasar menyebut, Makin Dekat Film Festival dicanangkan dapat mendekatkan semua aspek industri kreatif dimana film sebagai konektor antar aspek seperti komunitas dan subsektor kreatif lainnya. Ia menyebut di tahun pertamanya Makin Dekat Film Festival mengangkat dua karya seni audiovisual dengan nafas serupa yaitu Bali 1928 dan Mesatya Telusur Puputan Badung yang mengusung tema Bali masa lampau sebagai tayangan utama. 

Sesi diskusi pemutaran Film Mesatya Telusur Puputan Badung

Film Mesatya merupakan sebuah rekonstruksi peristiwa sejarah yang dikemas dalam alur penceritaan yang tidak biasa, mengambil sudut pandang proses seorang fotografer dalam mengabadikan peristiwa-peristiwa masa lampau. Duet Gung Ama dan Rai Pendet memantik antusias masyarakat pada screening film Mesatya Telusur Puputan Badung. Dengan berseri Gung Ama menarik ingatannya kembali sebelum film ini akhirnya tercipta. “Saya sebelumnya sedang menekuni alternatif fotografi. Saya mengambil Bali era 1930, saya ingin mempelajari kesejarahan Bali, belajar tentang nilai.” 

Selain itu, Semakin Dekat Film Festival berupaya menyentuh masyarakat dengan banyak pendekatan yang dikomunikasikan melalui film. Tidak hanya mengusung film dengan nuansa Bali masa lampau, Makin Dekat Film Festival juga menyajikan realitas masyarakat saat ini, realitas tersebut digambarkan melalui tayangan Movie on Blockchain. “Jadi dalam makin dekat ini ada musik, kemudian kayak sekarang ini ada blockchain karena memang ada Movie on Blockchain. Ada filmnya, bagaimana blockchain sudah merambah film “Hadir dengan berbagai isu yang digemakan melalui seni audiovisual. Makin Dekat Film Festival mengkolaborasikan banyak aspek dalam helatanya kali ini. Mulai dari sejarah hingga realitas modernisasi dikemas menjadi sebuah rangkaian kegiatan yang menarik dan kaya.

“Disinilah sisi industri kreatif itu berbicara bahwa bali masa lampau, culture apapun ketika dia dikemas dengan teknologi pendekatan masa kini itu menjadi hal yang menarik.” tandas Putu lengkong.

20231021_MiniStage_Moondial (1)
Media Release

Menikmati Ragam Aktivitas Anyar di Panggung Mini Stage

Penampilan band Moondial di mini stage Lapangan Lumintang (21/10)

Malam minggu Kota Denpasar dimeriahkan dengan puncak kegiatan D’Youth Fest 3.0. Sejak siang tadi, berbagai kegiatan komunitas dan kelompok dilaksanakan, salah satunya oleh Indonesian Strong Puller’s Federation (ISPF) Bali yang diketuai oleh Tomi Suryawardani. Turnamen adu kekuatan tangan atau yang dikenal dengan panco menjadi sorotan di mini stage Lapangan Lumintang Denpasar. Tidak ada penghalang yang berarti baik bagi peserta maupun penyelenggara turnamen ini, termasuk terik matahari yang menyengat. Mereka menganggap seakan panas yang menyentuh tubuh adalah aliran penyemangat untuk bisa menjadi pemenang turnamen panco.

Siang ini, puluhan peserta telah siap dengan kekuatan masing-masing. Perawakan yang kekar dengan guratan nadi yang timbul membuat kepercayaan diri peserta semakin bertambah. Sebelum resmi bertanding, peserta sudah terbagi menjadi beberapa kategori, yakni kelas 65 kilogram, 75 kilogram, 85 kilogram, dan lebih dari 85 kilogram. Mereka yang mendaftar pertandingan panco tidak hanya berasal dari anggota komunitas Bali, melainkan tersebar di beberapa wilayah Indonesia seperti Kalimantan, Surabaya, dan Sidoarjo. 

Adu kekuatan ini juga menarik minat pelancong barat untuk ikut bermain. Meski tidak terdaftar sebagai peserta, bule ini bisa mengikuti sesi latihan bersama pemain lainnya. Pertandingan sengit ini tidak sampai memicu amarah dari peserta justru mereka saling menunjukkan senyuman hangat dan merangkul satu sama lain.

Suasana sesi latihan adu panco antara bule dengan peserta yang dihiasi senyuman keakraban (21/10)

Selain itu, I  Wayan Satya Karuna ketua ISPF Denpasar juga turut andil dalam kompetisi ini sebagai peserta kategori 85 kilogram. Baginya, keberadaan panco saat ini masih kurang terlihat di kalangan masyarakat sehingga perlu diperlihatkan lagi. 

“Saya ingin menampilkan jika panco itu ada karena kurang terekspos padahal sudah ada dari tahun 2017,” ungkap Satya saat diwawancarai pada (21/10). 

Semangat Satya dan rekan-rekannya dalam mengenalkan panco serasa didukung oleh alam setelah mendapatkan kesempatan untuk menguasai panggung mini stage pertama kali di hari puncak D’Youth Fest 3.0. Meski berlangsung hanya beberapa jam, pria ini berharap agar masyarakat khususnya generasi muda bisa mengenal panco lebih dalam. 

Beberapa jam yang sangat sengit ditemani terik matahari dan sorak sorai penonton diakhiri dengan pengumuman juara. Kategori Lightweight (-65 kilogram) dimenangkan oleh I Ketut Budi Astawa (juara 1), Leonardo Prasetyo (juara 2), dan I Wayan Basma Wiguna (juara 3). Selanjutnya, Deloris Prima, Samiaji, serta I Made Tegar Oman menyusul naik ke atas panggung sebagai pemenang kategori Middleweight (-75 kilogram). Pengumuman dilanjutkan dengan pemanggilan pemenang kategori Middleweight (-85 kilogram), yaitu Wayan Setya, Kadek Ari Budiawan, dan I Gede Agus Gunawan. Sesi adu panco ini berakhir dengan pengumuman juara kategori Heavyweight (+85 kilogram) yang dimenangkan oleh Sumo (juara 1), Ketut Berlian Adi (juara 2), dan Ngurah Gede Sudarma (juara 3).

Situasi dokumentasi seluruh peserta dan penyelenggara adu panco di mini stage (21/10)

Terasa tanpa jeda, panggung mini stage kembali dikuasai oleh sekumpulan band anyar setelah sesi dokumentasi adu panco berakhir. Persiapan singkat dilakukan sebelum tampil menggelegar di atas panggung. Ditemani oleh senja, penampilan diawali oleh The Rog lalu dilanjutkan oleh Casteria dengan keseluruhan lagu yang dibawakan berhasil membakar semangat penontonnya. Grup Casteria yang terbentuk sejak 23 Oktober 2020 ini beranggotakan I gusti Agung Putra Handayana (vocal), I Kadek Ade Suaryadnya (bassist), Cok Gede Mega Putra (keyboard), dan Bagus Gelonk (drummer). 

Penampilan perdana band ini di mini stage D’Youth Fest 3.0 semakin meriah dengan lima lagu yang dibawakan, yakni Cause I’m Moving On, Boomerang pelangi, ABCD, Bagindas “Empat Mata”, dan Tresna Mepalasan. Awalnya, kumpulan alumnus Magister Kenotariatan  Universitas Warmadewa membentuk Casteria untuk berkarya sebelum menjadi notaris.

“Sambil menunggu (menjadi notaris), tidak ada salahnya kita berkarya dengan membuat band,” terang Putra pada Sabtu (21/10).

Inisiasi band Casteria ternyata bukan hanya keisengan semata. Nyatanya hingga saat ini dua album sudah dilahirkan dan bisa dinikmati di seluruh platform musik digital. Menurut Putra dan timnya, menguasai panggung mini stage di sore hari ini bagaikan kesempatan emas untuk bisa berkarya.

Selain Castaria, band Moondial, Forgood, Superfine, Roaddish, dan Little Isekai juga turut meramaikan panggung mini stage setelah penampilan coswalk. Sama seperti para penampil lainnya, band Roaddish yang beranggotakan Budi (vocal), Agus dur (drummer), Gusputra (bassist), dan Rahadian (guitarist) ini baru pertama kali merasakan panggung D’Youth Fest 3.0. Mereka menggunakan waktu senja ini sebaik mungkin dengan membawakan lima lagu berbeda.

Band Roaddhis saat membawakan lagu di panggung mini stage (21/10)

Nyatanya, panggung mini stage hari ini tidak hanya diisi oleh penampilan musik saja. Di sela-sela waktu penampilan band, ada penampilan unik yang menyita mata pengunjung. Kali ini, penampilan yang dibawakan bukan tentang suara ataupun adu kekuatan tangan melainkan adu gaya. Seperti namanya, kontes coswalk diikuti oleh puluhan remaja yang datang dengan kostum unik. Mulai dari kostum pahlawan, anime, hingga kostum hantu, peserta melenggang elok selama satu menit untuk menarik perhatian juri. 

Sebagian peserta Coswalk saat dokumentasi bersama sebelum pengumuman juara 

Ken Kazuto selaku juri coswalk membuka acara dengan kostum pahlawannya. Ditemani oleh Hara Darika dari Komunitas Cosplay, Ken melakukan penilaian terhadap seluruh peserta sore ini. Mereka yang dipanggil langsung melenggang menunjukkan pesona sebanyak dua kali putaran. Persiapan selama kurang lebih dua bulan ini menghasilkan keputusan untuk memberikan penambahan poin terhadap peserta yang mengangkat tema nusantara.

Coswalk sendiri memiliki tambahan penilaian pada kostum yang berbau nusantara, original character dari Indonesia maupun dari superhero Indonesia. Jadi yang pastinya sekitaran nusantara temanya,” ungkap Ken (21/10).

Bagi Ken, banyak manfaat yang bisa dipelajari dalam acara ini, salah satunya menambah sisi kreativitas, memupuk rasa percaya diri, dan bisa perform di atas panggung seperti penghayatan karakter. 

“Bukan hanya sekadar suka, tetapi bagaimana cara kita memerankannya,” tutupnya. 

Salah satu penampilan unik yang dibawakan oleh peserta yakni bertemakan horor. Berjalan dengan menyeret salah satu kaki, Anzi berhasil menghayati peran di film DreadOut. Menggunakan pakaian pocong dihiasi darah dan borok di wajah lengkap dengan celurit, siswa SMK 1 Denpasar ini memukau mata pengunjung. Peragaan perdananya di D’Youth Festival 3.0 dilatarbelakangi oleh perayaan halloween yang akan datang sebentar lagi. Siapa sangka, mulai dari make up dan darah pakaian dari cat akrilik semuanya disiapkan sendiri oleh Anzi. 

“Sudah sering cosplay, make up nya sejam tadi,” kata Anzi (21/10).

Selama akumulasi penilaian dilakukan, panggung mini stage kembali diisi oleh penampilan band hingga pukul 19.00 Wita. Saat yang dinanti-nanti oleh Anzi dan peserta lainnya kini sudah di depan mata. Pengumuman pemenang coswalk di tahun ini dibacakan oleh Ken dan ditemani oleh Hara. Juara tiga dimenangkan oleh Kusma (Tobirama) disusul oleh Anzi (Pocong Warrior) dan Kaze deyra (Sri Asih) sebagai juara satu. 

21-10-23-Penampilan Teater Diatas Panggung (1)
Media Release

Geliat Seni Peran Melalui Festival Teater Remaja Masa Kini

Menyusuri perayaan D’Youth Fest 3.0 di akhir pekan tentu masyarakat akan diajak untuk menyaksikan ragam kreativitas anak muda yang dituangkan dalam berbagai bentuk. Menilik tujuan awal D’Youth Fest 3.0 yang dilaksanakan tahun ini, yaitu untuk mewadahi kreativitas anak muda di Kota Denpasar salah satunya teater. Melalui panggung Theater Area yang bertajuk Festival Teater Remaja Masa Kini, siapapun yang hadir akan diajak mengekspresikan diri melalui serangkaian penampilan. 

Panggung Festival Teater Remaja Masa Kini hari kedua yang tampak meriah dengan penampilan dari Teater Loak yang dipersembahkan diatas panggung

Panggung yang terletak di Taman Kota tersebut nampak semakin dipadati oleh pengunjung dari berbagai kalangan, mulai dari siswa hingga perguruan tinggi, mulai dari anak – anak hingga orang dewasa turut antusias menyambut penampilan yang akan memeriahkan penutupan panggung D’Youth Fest 3.0 di Taman Kota Denpasar. 

Potret penonton yang terlihat terhibur sambil mendokumentasikan penampilan teater

Beni Dipo selaku event director panggung teater tersebut menuturkan event ketiga D’Youth Fest tahun ini mengusung konsep yang berbeda dengan tahun – tahun sebelumnya, “konsepnya karena ini di bulan Oktober ada vibes hallowennya dikit, dari desain maskot ada setan bertanduk dan kita beri vibes hallowennya. tapi tidak menutup kemungkinan adanya akulturasi dari seni budaya Bali, bisa dilihat dari guest star kita Teater Kini Berseri dari kostum hingga cerita yang dibawakan menggunakan cerita yang mengandung local wisdom” ungkap Beni. 

Penampilan pertama di panggung Festival Teater Remaja Masa kini hari kedua oleh komunitas Teater Loak 

Beragam penampilan dari komunitas – komunitas teater remaja dari tingkat sekolah menengah hingga perguruan tinggi turut mengundang seluruh masyarakat untuk berkumpul menyaksikan garapan seni teater khas anak muda di Kota Denpasar. Menggandeng beberapa komunitas teater, kemeriahan panggung D’Youth Fest 3.0 menjadi salah satu panggung pementasan hasil kolaborasi seluruh komunitas teater sehingga dapat membentuk suatu bentuk festival. 

enampilan Teater oleh Komunitas Teater Kini Berseri yang membawa cerita Ramayana, nampak rahwana (kiri) dan sinta (kanan) yang sedang berdialog mengikuti peran

Festival Teater Remaja Masa Kini telah berlangsung selama dua hari dengan beragam pertunjukan dari komunitas teater antara lain Teater Sangsaka, Teater Sativa, Teater Bagol, dan Teater Biru Jingga. Kini  di hari kedua,  komunitas teater berbakat turut terlibat bersama merayakan penutupan panggung D’Youth Fest 3.0,  antara lain teater loak, teater Jungut Sari dan Teater Orok. 

Penampilan ekspresif dari aktor Teater Jungut Sari yang turut menghibur penonton di panggung hari kedua Festival Teater Remaja Masa Kini 

Panggung kian meriah oleh garapan bernuansa budaya oleh komunitas Teater Kini Berseri. “konsep ini kita bertajuk I Golf U yaitu membawa peran rama, sita dan rahwana, modifikasi ceritanya dengan mengambil tema golf” ungkap Rio selaku pemeran Rama dalam garapan teatrikal milik Kini Berseri. 

Panggung Festival Teater Remaja Masa Kini yang ditutup dengan penampilan Rama dan Sita

Sebagai salah satu penggiat seni Teater yang juga bergabung dengan Kelompok Teater Kini Berseri, Rio turut menyampaikan bagaimana panggung – panggung berkesenian khususnya seni teater saat ini, “Masih sedikit ya panggung – panggung untuk menampilkan teater dengan nuansa – nuansa baru, jadi ketika kita akan membuat event teater gitu kebingungan untuk mencari panggung, sementara di Denpasar hanya terdapat satu yang well prepared yaitu Dharma Negara Alaya, harapannya semakin kedepan makin banyak panggung yang disediakan dan pelaksanaannya pun dapat terus berkelanjutan” tutup Rio. 

20231021_Final ESport (1)
Media Release

Turnamen ESI Denpasar, Menjaring Bibit Atlet E-Sport Unggulan

Babak akhir penentuan juara pelombaan E-Sport Indonesia (ESI) Denpasar di Amphiteater Taman Kota, Sabtu (21/10)

Hari kedua perlombaan E-Sport Indonesia (ESI) Denpasar, menuju babak akhir penentuan sang juara. Amphiteater Taman Kota tampak semakin panas dengan sorak sorai pendukung ketiga tim terbaik yang lolos untuk memperebutkan puncak tertinggi kejuaraan ESI Denpasar. 

Selepas 5 jam bergelut panas dengan gawainya, peringkat teratas perlombaan Mobile Legend akhirnya disabet oleh SMA N 1 Denpasar, di posisi kedua ditempati oleh SMA N 1 Kuta dan Posisi Ketiga diraih oleh SMAN 11 Denpasar. 

Senyum sumringah kontingen SMA 1 Denpasar usai menyabet Juara 1 Mobile Lagend ESI Denpasar.

Selain mewadahi minat dan bakat generasi muda dalam cabang E-Sport, turnamen ini juga menjadi jala yang menjaring bibit-bibit atlet E-Sport unggulan, mengingat Denpasar selama ini telah cukup berjaya mendelegasikan pasukan E-Sport kuat pada banyak ajang perlombaan berskala nasional. Adi Karya Nugraha Ketua ESI Denpasar  menyebut Bali mempunyai potensi yang spesial. “Atlet Denpasar sendiri melupakan atlet yang terbanyak yang akan melaju di PON untuk mewakili  Bali.”

Adi Karya Nugraha, Ketua E-Sport Indonesia (ESI) Denpasar terlihat puas setelah melihat antusiasme peserta lomba ESI Se-Bali

Berbicara soal keberlanjutan dan pemberdayaan potensi sumber daya manusia yang ada, selepas perlombaan ini, Adi Karya menyebut akan dilaksanakan pembinaan untuk membentuk iklim E-Sport yang berkualitas dan semakin memajukan cabang E-Sport di Denpasar juga Bali. “Target kami memang untuk tahun depan ya itu ada pembinaan untuk SMP SMA,  Universitas sampai umum nah,  kita sudah berjalan sih jenjang-jenjang pembinaan itu dari tahun ini sudah sustain ada pekan olahraga pelajar.”

Sementara itu, Putu Narendra Putra Gaska salah satu anggota tim SMA N 1 Denpasar yang berhasil menyabet posisi teratas mengharapkan eksistensi E-Sport dapat terus berlanjut, “semoga E- Sport sukses selalu dan konsisten,” tutupnya

21-10-23-Foto Bersama Peserta dan Juri
Media Release

MC Contest 2023: Mengasah Skill Public Speaking melalui Kompetisi

Menutup pagelaran D’Youth Fest 3.0, seluruh panggung kreativitas bagi anak muda di Kota Denpasar telah mencapai akhir rangkaiannya. Seluruh panggung D’Youth Fest 3.0 memberikan suguhan terbaik melalui ragam mata acara yang disusun apik. Begitupula dengan Gedung Dharma Negara Alaya, sekelompok anak muda nampak berpakaian rapi dengan kemeja dan sepatu yang klinis, sementara beberapa lainnya berbusana adat, nampak memasuki ruangan yang diketahui diperuntukkan sebagai panggung komunitas kreatif. 

Peserta MC Contest 2023 yang nampak mengisi tempat duduk di Ruang Diskusi  Dharma Negara Alaya 

MC Contest 2023 menjadi salah satu ajang yang dinantikan oleh anak muda yang memiliki ketertarikan minat dan bakat seputar public relation. Sekelompok anak muda yang terlihat berpakaian rapi merupakan peserta – peserta yang nantinya akan mengikuti kontes kemampuan memeragakan pembawa acara yang dilaksanakan di Community Area Gedung DNA. Sebuah kompetisi nasional tersebut diinisiasi oleh kelompok penggiat seni berkomunikasi lewat public speaking. 

Salah satu peserta MC Contest 2023 yang nampak rapi dengan setelan kemeja berwarna biru

Dwi Hera selaku founder dari Public Speaking Bali, menuturkan latar belakang pembentukan kegiatan MC Contest tersebut, “Sebuah wadah komunitas untuk seluruh elemen masyarakat yang tertarik di bidang public speaking jadi kurang lebih kita terbentuknya tahun 2019, jadi kurang lebih 4 setengah tahun kita ada di Kota Denpasar,  dan kita mendukung banget muda – mudi bali untuk lebih aware bahwa public speaking skill itu penting banget, maka dari itu kita sering banget ngadain kegiatan, ngadain beberapa lomba, salah satunya event akbar MC Contest tahun 2023 ini” ungkap Dwi. Dwi menuturkan MC Contest 2023 ini merupakan event kedua dari komunitas tersebut, dengan tiga tahun sebelumnya juga bertempat di Dharma Negara Alaya. 

Dwi Vera selaku Founder Public Speaking Bali memberikan opening speech sebelum dimulainya acara MC Contest 2023. 

Antusiasme generasi muda terkhusus yang memiliki ketertarikan di bidang public speaking dirasa cukup tinggi, hal tersebut pun didukung dari banyaknya peserta yang turut hadir memenuhi ruangan. Jumlah peserta dalam kuantitas pun mencapai 98 peserta yang terbagi atas 3 kategori perlombaan, MC Indonesia, MC Bahasa Inggris dan MC Bahasa Bali. Tak hanya itu, perwujudan antusiasme anak muda juga dilihat dari penampilan yang tentu dipersiapkan dengan matang mengikuti peran sebagai pembawa acara berdasarkan kategori bahasa yang dipilih. 

Peserta MC Contest yang menggunakan busana sesuai dengan kategori lomba yang dipilih 

Bagi Dwi, panggung – panggung di Kota Denpasar telah banyak tersedia dan komunitas telah diberikan keleluasaan untuk mengusung konsep – konsep baru sehingga nantinya dapat memberikan manfaat berupa skill. Rani selaku peserta yang telah mengikuti kompetisi, menuturkan panggung – panggung untuk minat bakat di bidang komunikasi terkhusus public speaking nantinya akan terus berkambang dan berkelanjutan tidak hanya di kancah nasional namun juga dapat mencapai tingkat internasional. 

Pengumuman pemenang MC Contest 2023, nampak juri yang memberikan piala penghargaan kepada juara satu MC Contest 2023 pada kategori MC Bahasa Inggris

Dwi turut memberikan harapannya akan panggung – panggung bagi komunitas “Mudah – mudahan event MC Contest  2023 ini bisa konsisten kedepannya,  kita pengennya mudah – mudahan bisa dilaksanakan setahun sekali, dua tahun sekali, serta bisa bekerjasama dengan Pemerintah Kota Denpasar, D’Youth Fest, DNA dan semua stakeholder terkait,” ungkap Dwi, baginya ketika berkolaborasi maka hasil yang didapatkan pun semakin besar, sehingga nantinya manfaat tidak hanya dirasakan oleh komunitas saja tetapi dirasakan oleh masyarakat luas. 

20231021_Youth Land_Macrame
Media Release

Workshop Macrame: Mengisi Waktu Luang Dengan Melatih Jemari

Foto bersama peserta dan penyelenggara Workshop Macrame yang bertempat di Youth Land D’youth Fest 3.0

Rajutan yang dihasilkan oleh jari jemari lentik para perempuan kembali hadir di area Youth Land yang berlokasi di Lapangan Lumintang. Terik Kota Denpasar siang hari ini yang diteduhi oleh rangkaian kain oranye,  menyambut para peserta yang hadir. Tampak para perempuan dari berbagai kalangan sudah mulai memenuhi tempat duduk yang disusun setengah melingkar. Mereka terlihat sangat siap dengan genggaman benang di tangan masing-masing.

Melanjutkan workshop rajutan yang telah dilakukan pada hari pertama D’Youth Fest 3.0, Volen Artspace dengan kerjasamanya bersama Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) menghadirkan Workshop Macrame di Day 2 D’youth Fest 3.0. Kali ini, mereka mengangkat kerajinan Wall Hanging atau hiasan yang terbuat dari rajutan benang untuk dipajang di dinding. Fungsi dari hiasan ini sendiri salah satunya adalah fungsi estetika, sebagai pengisi hiasan kamar yang kosong.

Angga, Head Trainer dari Volen Artspace yang menjadi tutor untuk peserta di workshop macrame kali ini

Hadir Angga, sebagai Head Trainer dari Volen Artspace yang menjadi tutor untuk para peserta yang ikut dalam workshop. Ia menjelaskan dengan adanya Workshop Macrame ini, dapat memperkenalkan kepada orang-orang bahwa ada kesenian macrame yang kegiatannya dapat dilakukan pada saat waktu senggang, “Dari pada main HP,  jadi lebih baik buat sesuatu hal,” Jelasnya saat Workshop Macrame pada Sabtu (21/10). Ia menambahkan, bahwa Wall Hanging ini dibuat dengan teknik square knot.

Nisma, salah satu peserta Talkshow Macrame menunjukkan Wall Hanging yang merupakan karya rajutannya

Peserta yang turut hadir dalam Workshop Macrame diramaikan oleh 11 orang yang didominasi oleh individu yang memang berkeinginan untuk menambah pengetahuan, juga skill baru. Nisma, yang merupakan salah satu dari peserta workshop, mengatakan bahwa ini merupakan kedua kalinya Ia mengikuti workshop merajut. Tak hanya itu, Ia juga berpendapat bahwa berawal dari rasa penasaran, ternyata kegiatan ini sangat bermanfaat untuk dirinya. “Sangat menyenangkan, memberikan pengetahuan baru, dan tentunya membantu UMKM juga yang ingin berjualan,” tuturnya pada Sabtu (21/10). 

Angga, Head Trainer yang sigap membantu peserta merajut benang 

Selama berlangsungnya acara, tak henti Angga dan rekannya dengan sigap selalu membantu para peserta yang sedang kesusahan. Mereka turut membantu dengan jeli, juga penuh kesabaran membantu menjelaskan dan mengajarkan para peserta hingga mengerti. Perlahan-lahan rajutan benang warna-warni tersebut membentuk Wall Hanging yang akan menghiasi dinding kamar para peserta.

Workshop Macrame ini berlangsung selama satu setengah jam, yakni dimulai pukul 15.00 hingga 16.30 Wita. Tampak raut senang dan puas para peserta saat akhir acara karena berhasil merajut benang di genggaman mereka hingga menjadi sebuah kerajinan tangan Wall Hanging. Terlihat sangat rapi dan cantik. Membuat kerajinan macrame, selain mengisi waktu luang dan menambah skill baru, juga dapat membantu para UMKM untuk mengembangkan bisnisnya. Perlahan-lahan, para peserta mulai meninggalkan kursinya masing-masing. Hal ini menandakan usainya kegiatan Workshop Macrame D’youth Fest 2023.

20231021_Youth Land_Talkshow Barberbagi (1) (1)
Media Release

Talkshow Barberbagi: Bincang Santai dengan Tukang Cukur di Bali

Sesi Talkshow Barberbagi: Sharing Barber Community yang bertempat di venue Youth Land D’youth Fest 3.0

Terik Kota Denpasar siang hari ini menyorot kawasan Youth Land yang berlokasi di Lapangan Lumintang. Lokasi mulai dikerumuni oleh anak muda kreatif dari berbagai kalangan dengan hobi juga profesi yang sama, yakni tukang cukur rambut. Kerumunan ini didominasi oleh pria yang mengenakan pakaian serba hitam, dengan senyum merekah tampak pada wajah mereka. Para pengunjung yang datang tentunya memiliki kegemaran untuk mengkreasikan penampilan rambut seseorang agar menjadi lebih menawan.

Tempat duduk yang disusun berbentuk setengah melingkar perlahan mulai dipenuhi oleh para pengunjung yang memiliki rasa keingintahuan tinggi mengenai profesi tukang cukur rambut. D’youth Fest 3.0 menghadirkan Komunitas Toekang Cukur Bali untuk mewadahi pemuda kreatif lokal Bali yang bergelut di dunia tukang cukur dengan menggelar Talkshow Barberbagi: Sharing Barber Community.

Edo Renanda dan Yogeswara Chandra beserta anggota komunitas Toekang Cukur Bali

Talkshow yang dihadiri oleh 48 peserta ini menghadirkan Edo Renanda selaku pendiri atau ketua dari Komunitas Toekang Cukur Bali, didampingi dengan Yogeswara Chandra selaku wakil dari Komunitas Toekang Cukur Bali. Tak hanya mereka, ada dua orang lainnya yang turut menjadi meramaikan yakni Alwyz Fatih Tevta Wewengkang atau Alwyz The Barberbuzz dan Swan Barber sebagai anggota dari Komunitas Toekang Cukur Bali yang sudah sukses menekuni profesi sebagai tukang cukur. Keempat pembicara inilah yang akan memimpin bincang santai dengan para peserta siang hari ini.

Komunitas Toekang Cukur Bali bermula dari sebuah perkumpulan teman-teman lokal Bali yang bergelut di dunia Tukang Cukur. Edo Renanda menjelaskan bahwa memang sudah banyak terdapat komunitas tukang cukur di Bali, namun belum ada yang mengkhususkan untuk perkumpulan tukang cukur masyarakat di Bali, “Maksudnya menjadi rumah di rumah kita sendiri, yaitu Bali,” tuturnya saat Talkshow Barberbagi D’youth Fest 3.0 2023 pada Sabtu (21/10). 

Renanda membagikan perjalanannya dalam membangun Komunitas Toekang Cukur Bali. Ia bercerita bahwa pada tahun 2016, dirinya bekerja di sebuah Barbershop dan melihat bahwa ada komunitas di Bali namun menyangkut banyak anggota dengan peserta lokal Bali yang sedikit. Hal itu yang menjadi fondasi dari berdirinya Komunitas Toekang Cukur Bali dan menjadikan wadah untuk teman-teman lokal Bali untuk bergabung dan tidak menjadi tamu lagi di rumah kita sendiri, yaitu Bali.

Keseruan Peserta Talkshow Barberbagi D’youth Fest 2023 yang sedang menyimak pembicara

Para pengunjung terlihat sangat antusias menatap para pembicara untuk mendengarkan mereka berbagi pengalamannya lebih dalam sebagai tukang cukur. Pengunjung yang datang pun juga berasal dari berbagai daerah yang ada di Bali. Terlihat para pembicara talkshow dapat mencairkan suasana dengan saling bertukar pendapat dengan para pengunjung. 

Salah satunya adalah Kadek Dian, peserta yang berasal dari Kedonganan, dengan bersemangat Ia berbagi cerita bahwa dirinya merupakan seorang perawat dengan pekerjaan sampingan sebagai tukang cukur, “Awalnya saya ini basicnya di kesehatan sebagai perawat, saat ini pun masih menjadi perawat di salah satu rumah sakit di Jimbaran. Sedangkan, tukang cukur jadi pekerjaan sampingan,” jelas Kadek Dian pada Sabtu (21/10).

Adapun salah satu tukang cukur wanita bernama Indah, yang turut berbagi kesenangannya dalam berprofesi sebagai tukang cukur. Wanita yang tampaknya sudah berkeluarga itu berpendapat bahwa menjadi tukang cukur sangat fleksibel, “Jadi tukang cukur bisa kemana aja, bisa jaga anak juga,” ungkapnya pada Sabtu (21/10).

Pengunjung Talkshow Barberbagi D’youth Fesr 3.0 dari berbagai kalangan

Wakil dari Komunitas Toekang Cukur Bali Yogeswara Chandra turut serta menuturkan bahwa peserta yang hadir didominasi oleh kalangan anak muda yang tidak hanya berprofesi sebagai tukang cukur, “Dari luar (profesi tukang cukur) juga banyak, seperti anak muda yang mungkin baru mau belajar nyukur,” jelasnya. Talkshow berlangsung sekitar satu jam, dimulai pukul 13.30 hingga 14.30 Wita. Tak terasa sejam berlalu,  tampak para pengunjung satu persatu mulai meninggalkan bangku. Dengan itu ditandai dengan berakhirnya acara Talkshow Barberbagi: Sharing Barber Community.

20231020_TheaterArea_Melodi9 (1)
Media Release

Kreativitas Seni Remaja Kota Denpasar: Lahirkan Bibit Unggul dari Pagelaran Band, Teater, dan Skateboard

Penampilan Melodi 9, salah satu peserta di Student Band Battle D’Youth Fest 3.0

Menyambut akhir pekan di pertengahan bulan Oktober, suasana taman kota tampak berbeda. Riuh teriakan penonton disusul oleh suara musik yang tak kalah lantang bak memecah suasana pagi. Hari ini taman kota tidak hanya disinggahi oleh anak-anak, tetapi juga orang dewasa yang memusat pada satu acara, yakni pagelaran seni.

Sejak pukul 09.30 Wita para penampil sudah melakukan persiapan di panggung Theater Area. Pakaian apik yang dikenakan dengan alat musik yang dibawa menjadi pembeda antara satu kelompok dengan yang lainnya. Mulai dari warna yang mencolok, full hitam, hingga tema tradisional menjadi kostum yang dipilih oleh setiap tim dalam acara Student Band Battle.

Meski terik matahari menyengat, perlombaan tetap berjalan dengan meriah. Terdapat 10 band yang tampil untuk unjuk kemampuan, yakni Crossbank, Dass Shine, Shine Two, Until the Sunset, Melodi 9, Neonsix Band, The Pancas, Stars Project, Trigliv, dan Rising Star Band. Mereka berasal dari berbagai jenjang, mulai dari anak sekolah dasar hingga sekolah menengah atas. 

Until The Sunset menjadi salah satu penampil di rangkaian acara student band battle yang berasal dari Sekolah Highscope Indonesia Bali. Grup band yang terdiri dari Abhijata (drummer), Arsya (keyboardist), Putu Agus (basses), Rania (vocalist), Krisna (guitarist), dan Saka (guitarist) ini berhasil memukau pengunjung dan dewan juri karena mereka merupakan peserta termuda. Kumpulan siswa sekolah dasar ini membawakan lagu ‘Penyalin Cahaya’ dan ‘Merah Putih’. Meski perasaan tegang menyelimuti, penampilan perdana mereka di panggung Student Band Battle berhasil memecah suasana dan meraih peringkat 3. Bagi band Until The Sunset, penampilan kali ini merupakan batu loncatan pertama mereka sebelum menuju kompetisi berikutnya yang lebih menantang.

“Ya agar lebih maju dan bisa ke internasional juga,” ungkap Krisna (20/10).

Potret Until The Sunset, juara 3  Student Band Battle D’Youth Fest 3.0

Di sisi lain, I Gusti Ngurah Putra Miharja selaku juri Student Band Battle mengatakan jika pertandingan di tahun ini sedikit berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. 

“Yang pasti sih yang tahun ini semua sudah well prepared, jadi nggak ada gitar yang fals gitu, makanya kita sebagai dewan juri itu bingung sebenarnya mau pilih yang mana sebagai juara,” ungkap personel Soundtrack of Your Life (20/10).

Menurutnya, kegiatan Student Band Battle menjadi regenerasi dari skena musik di indonesia, khususnya Bali karena banyak sekali potensi-potensi di bidang musik itu yang benar-benar harus digali dan benar-benar harus di support

Selaras dengan Jik Putra, Ida Bagus Agung Reza Mahaputra juga mengatakan jika kegiatan battle ini menumbuhkan dan mendukung bibit-bibit baru dalam musik di Bali meskipun siswa tersebut jarang terlihat di bidang akademik. Menurut personel Black Swan ini, semua tim adalah pemenang sehingga tidak ada istilah kalah dalam kompetisi ini.

“Kalau kalah di kompetisi tidak apa-apa tapi jadilah pemenang di hati masyarakat,” tutupnya.

Student Band Battle pada hari Jumat ini diakhiri dengan pengumuman pemenang dari beberapa kategori. Pengumuman diawali dengan kategori best player dengan lima nominasi, yaitu best player drummer dari Melodi 9, best player bassist dari Dass Shine, best player keyboardist dari The Pancas, best player guitarist dari Trigliv, dan best player vocalist dari Melodi 9. Pengumuman pemenang dilanjutkan setelah penyerahan hadiah best player dilakukan. Kali ini, Until The Sunset berhasil menduduki peringkat ketiga disusul oleh The Pancas dan Melodi 9 sebagai peringkat pertama. Acara Student Band Battle di D’Youth Fest 3.0 diakhiri dengan sesi penyerahan hadiah kepada tiga tim pemenang dan serta dokumentasi dengan seluruh peserta kompetisi.

Menikmati Malam dengan Pertunjukan Teater

Masih di lokasi yang sama, menuju pukul 18.00 Wita pengunjung taman kota semakin padat. Kali ini dengan beralaskan karpet dan juga rerumputan, penonton duduk serempak menyambut pertunjukan teater sebagai peneman malam. Antusias yang ditunjukkan dengan teriakan dan tepuk tangan mengalahkan suara musik latar yang muncul. 

Malam ini, Jumat (20/10) pertunjukan seni teater akan dibawakan oleh empat kelompok. Sebelumnya, mereka telah melakukan olah panggung dan latihan di panggung theater area satu jam sebelum acara dimulai. Waktu yang tersedia dimanfaatkan dengan baik oleh masing-masing kelompok teater hingga tidak terasa acara pertunjukan dimulai.

Pertunjukan diawali oleh Teater Sangsaka. Arjun bersama rekan-rekan SMK N 1 Denpasar berhasil mengajak penonton tegang dengan tema horor yang diangkat. KKN di Desa Kenari menjadi inspirasi penampilan operet mereka di panggung theater area D’Youth Fest 3.0. 

“Pesan pertunjukan kami itu dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung. Jadi kita sebagai orang baru harus ikuti peraturan yang ada jangan semena-mena,” tutur Arjun, pimpinan produksi Teater Sangsaka (20/10).

A.A. Arjun Mahavira Putra, Pimpinan Produksi Teater Sangsaka saat diwawancara mengenai tema yang pertunjukkan yang diangkat

Siswa yang memiliki nama lengkap A.A. Arjun Mahavira Putra ini menyatakan jika penampilan mereka di D’Youth Fest 3.0 yang berjudul Malapetaka merupakan pengalaman pertama karena sebelumnya mereka terbiasa tampil di ruangan tertutup. Operet yang dibawakan juga memberikan kesempatan kepada adik-adiknya untuk melatih mental dan juga menambah jam terbang mereka dalam dunia teater. Selain itu, kekompakan dan kerja sama menjadi hal yang didapatkan oleh tim teater Arjun setelah pengalaman. Tidak banyak harapan yang dilontarkan oleh siswa kelas 12 ini, dia hanya ingin agar kedepannya pagelaran teater seperti saat ini bisa tetap ada. 

“Next, semoga masih ada kegiatan seperti ini dan kalau bisa gratis,” tutup Arjun.

Sorakan penonton semakin ramai setelah tarian penutup Teater Sangsaka berhenti dan disambung oleh pertunjukan Teater Sativa. Kali ini judul Dusta Lara dibawakan dengan Yesi sebagai pimpinan produksi dan Bintang sebagai Sutradara. Penampilan Teater Sativa tidak kalah apik dari sebelumnya dengan pembawaan cerita dan gerakan dari setiap pemainnya.

I Putu Diva Aditya mengatakan jika ini adalah pertama kalinya ia datang ke D’Youth Fest 3.0 dan menonton pertunjukan teater. Selama pertunjukan berlangsung, Diva merasa ikut terseret dalam cerita yang dipersembahkan masing-masing kelompok teater. 

Siswa SMK N 5 Denpasar ini ternyata tidak datang dengan sengaja, ia merupakan salah satu peserta lomba e-sport di D’Youth Fest 3.0. Waktu senggangnya setelah pertandingan digunakan untuk melihat pertunjukan teater. Ketertarikannya timbul saat melihat pamflet dari masing-masing kelompok teater.

“Seru sih tak kira bakal boring, ternyata lucu,” ujar Diva (20/10).

Beralih ke pertunjukan selanjutnya, kini saatnya Teater Bagol menunjukkan hasil karyanya. Mengangkat judul Graduation, Teater Bagol juga berhasil memeriahkan malam taman kota dan diakhiri dengan penampilan dari Teater Biru Jingga. Persembahan terakhir ini berjudul Vengeance dan menutup malam kemeriahan pertunjukan teater di hari pertama D’Youth Fest 3.0. 

Bersamaan dengan penutupan teater Biru Jingga, penonton memberikan teriakan dan tepuk tangan meriah sebagai akhir dari acara di theater area malam ini. Setelah beranjak, penonton mulai menuju pintu keluar untuk melanjutkan aktivitas masing-masing. Tidak lupa, beberapa orang mengabadikan momen malam ini dengan mengambil gambar dan video singkat.

Mencari Bibit Unggul di Skateboard Competition

Beralih ke seberang taman kota, terdapat aktivitas lain di belakang panggung utama D’Yoth Fest 3.0 sejak pukul 13.00 Wita. Acara ini merupakan kompetisi skateboard yang diikuti oleh lima puluhan peserta dari berbagai kalangan usia. Tidak hanya remaja, anak-anak sekolah dasar juga turut meramaikan acara ini dengan tingkat yang tersedia, yakni under dan beginner. Seluruh peserta skateboard menunjukkan kelihaiannya dalam kompetisi ini. 

Keseruan perhelatan setiap peserta berakhir dengan diumumkannya tiga juara dari masing-masing kategori. Untuk kategori beginner, kompetisi skateboard dimenangkan oleh Willy sebagai juara 1, Eben sebagai juara 2, dan  Dylon sebagai juara tiga. Dalam tingkat under, Dylon berhasil mengantongi juara 1, Banu sebagai juara 2, dan Daichi berhasil memperoleh juara tiga. 

Peserta Skateboard kategori beginner saat kompetisi sedang berlangsung

Perhitungan poin dalam penentuan juara dilakukan oleh tiga juri, salah satunya Ida Bagus Prasuta. Pria yang sudah menggeluti dunia skateboard sejak 1990-an ini merupakan ketua dari komunitas Persatuan Skateboarder Bali dan sudah menjadi juri sejak awal kompetisi. Bagi Prasuta, kegiatan skateboard ini bukan hanya sekadar kompetisi belaka, tetapi ada manfaat lain yang bisa didapatkan oleh setiap pesertanya.

“Mereka punya ajang khusus yang bisa memacu kegiatan mereka selama berkompetisi, jadi mereka bisa melatih mental, skill, dan sebagainya untuk meraih apa yang ingin mereka capai,” ungkap Prasuta (20/10).

Bagi Prasuta, kegiatan skateboard tidak lagi sebagai hobi belaka, tetapi menjadi celah prestasi bagi para penggelutnya karena timbulnya bibit-bibit unggul. Antusias peserta di tahun ini juga berbeda dari sebelumnya yang mana jumlah peserta meningkat. Tidak hanya itu, latar belakang peserta tahun ini juga beragam, tidak hanya dari Bali, ada juga peserta asing dari Finlandia dan Rusia. Melihat potensi yang ada, Prasuta berharap agar Denpasar bisa memiliki fasilitas yang semakin memadai untuk mengembangkan potensi dari bibit unggul yang nantinya bisa mengharumkan nama Bali.
“Jadinya lebih terarah dengan adanya fasilitas yang benar-benar memadai untuk menunjang kegiatan ini,” tutupnya. 

Media Release

Talkshow Mitigasi Kreatif : Memantik Geliat Ekonomi Kreatif di Kota Denpasar

Selain menjadi wadah untuk menyalurkan kreativitas bagi generasi muda, Dyouth turut memberikan ruang bagi UMKM untuk berkembang dan menjaga nyalanya melalui Talkshow Mitigasi Kreatif dengan narasumber yang kompeten di bidangnya. Talkshow ini diselenggarakan di Lapangan Lumintang dengan melibatkan pelaku-pelaku usaha tenant yang berpartisipasi dalam Denpasar Youth Festival dan sejumlah narasumber dari Bank Rakyat Indonesia (BRI), J&T Ekspres hingga Direktur Utama PT Dwi Jawara Digital. Talkshow Mitigasi Kreatif ini lahir dari keresahan-keresahan yang seringkali menghinggapi pelaku-pelaku usaha memantik pemerintah Kota Denpasar menyedikan keran-keran informasi terkait peta jalan yang dapat ditempuh dalam membangun usaha.

Sesi Talkshow Mitigasi Kreatif seputar membangun geliat ekonomi kreatif di Kota Denpasar yang bertempat di Panggung Youth Land (20/10)

Talkshow Mitigasi Kreatif ini membuka akses bagi pelaku-pelaku usaha di Denpasar dalam mengembangkan usahanya, sejalan dengan yang diungkapkan oleh Agung Eko Dhananjaya anggota Bkraft Denpasar. Agung menjelaskan Mitigasi kreatif adalah semacam coaching clinic atau talkshow yang memberikan informasi seputar membangun dan mengembangkan usaha kepada UMKM di Kota Denpasar. Lebih lanjut, ia menyebutkan bahwa Bkraft juga menyediakan program pendampingan kepada masyarakat pada saat akan membentuk usaha, pendampingan saat melaksanakan usaha sampai siap berusaha. “Ketika dia siap berusaha kita kenalkan, ada informasi lagi bagaimana cara akses modal, kemudian bagaimana tanggung jawab mereka terhadap negara melalui pajak.” ungkap Agung.

Talkshow Mitigasi Kreatif ini dihadiri oleh seluruh tenant yang berpartisipasi dalam helatan D’Youth Festival 2023

Keseriusan dalam membangun iklim ekonomi kreatif di Kota Denpasar terwujud dengan dicanangkannya kelas-kelas kepada pelaku UMKM. “Tahun 2023 ini akan ada kelas rutin setiap akhir sesi Bkraft akademi reguler. Mereka UMKM yang hadir di DNA akan kami berikan 4 kelas, setiap 3 bulan akan ada Talkshow Mitigasi Kreatif dan setiap bulan akan ada coaching clinic.

Pelaku usaha dan stakeholder terkait bahu membahu berkolaborasi membanggun iklim ekonomi kreatif Kota Denpasar

Lebih lanjut, Direktur utama PT Dwi Jawara Digital, Adi Sumerdita menyambut baik program mitigasi kreatif yang digaungkan Bkraft. “Adanya mitigasi kreatif ini naikin value dari UMKM, jadi dari Bkraft itu sebagai wadahnya pelaku industri kreatif. Mereka bisa ngasih pelatihan, mereka juga sekarang nyediain gimana cara mendapatkan pembiayaan karena biasanya dari UMKM itu kendalanya relasi, distribusi, sama pembiayaan.”

Sementara itu Ani salah seorang pelaku UMKM menyebutkan, ini sudah kali ketiga ia mengikuti Talkshow Kreatif. Wanita berusia 34 tahun tersebut mengatakan banyak impak positif yang ia terima setelah mengikuti talkshow, utamanya dalam pengembangan usahanya. “Manfaatnya sih banyak banget sebenarnya terus sangat positif banget ada masukan-masukan yang baru lagi untuk pengembangan usaha kita,” tandasnya.

20-10-23-Suasana Penonton (2) (2)
Media Release

Merawat Kreatifitas Lewat Sajian Musik Band Anyar hingga Legendaris

Merawat kesenian bermusik, panggung kreatifitas anak muda Kota Denpasar turut menghadirkan ruang – ruang berkreativitas bagi anak muda dalam menyalurkan minat dan bakat yang dimiliki melalui serangkaian mata acara di panggung Lapangan Lumintang. Band anyar hingga band band legendaris turut memeriahkan panggung Main Stage dan Mini Stage yang bertempat di lokasi yang sama.  Panggung dengan stage yang bernuansa bambu turut menemani alunan musik dari band anyar Ibukota Denpasar. Salah satunya Revival, band yang baru terbentuk di Bulan Agustus lalu ini turut memeriahkan panggung D’Youth Fest 3.0 tahun ini, “Kita sebenarnya band baru yang baru merintis, baru tahun ini di bulan agustus, seperti namanya ya ‘Revival’ yang berarti kebangkitan, kita munculnya di Bulan Agustus.” Ungkap Vokalis Revival.  

Panggung Mini Stage bernuansa bambu yang terletak di Lapangan Lumintang

Band anyar ini turut memberikan apresiasinya terhadap ruang – ruang bermusik yang diciptakan melalui sebuah panggung di D’Youth Fest tahun ini, “Makin open, makin ada wadahnya untuk berekspresi supaya anak muda gak kemana – mana, mungkin lebih ditingkatkan tiap beberapa bulan jadi tidak menunggunya beberapa tahun, harapannya makin banyak aja ya, kompetisi – kompetisi, umumnya paling banyak untuk anak – anak ya, jarang untuk umum” tutup Revival. Alunan musik lainnya juga turut mengisi panggung Mini Stage yang telah dimulai dari pukul 15.00 WITA tersebut antara lain, Twinklewounds, The Gats, The Effortless, De Bansos, Fluctus, Selotape, dan Pherona. 

Penampilan gitaris dari band anyar Twinklewounds di panggung mini stage pada hari pertama D’Youth Fest 3.0

Semarak hari pertama D’Youth Fest 3.0 tentu saja bermuara di panggung utama atau Main Stage. Menghadirkan musisi – musisi anyar seperti Aruma dan Meiska dengan genre pop bertema kehidupan masa muda  turut mengajak penonton hanyut dalam memori romansa khas anak remaja. 

Meiska sebagai musisi pendatang turut hadir memeriahkan Main Stage 

Hanyutan lagu romansa turut mewarnai lagu – lagu karya Leeyonk Sinatra, Yudi Dharmawan selaku vokalis Leeyonk Sinatra turut menyampaikan harapannya terkait pertumbuhan panggung kreatifitas di Kota Denpasar, “tahun ini outdoor ya, harapannya tahun selanjutnya dapat dikembangkan lagi supaya nantinya tumbuh stage – stage lainnya tidak hanya satu” ungkap Yudi, baginya panggung berkreativitas patut dirawat sehingga dapat terus ada dan  memberikan dampak berkelanjutan bagi perjalanan seni musik di Kota Denpasar. 

Penampilan duet Leeyonk Sinatra di salah satu lagu yang dibawakan ketika tampil di main stage D’Youth Fest 3.0

Panggung Main Stage kian pecah dengan sajian musik berbagai genre dari band legendaris lainnya seperti White Swan.  Antusiasme penonton makin terasa dikala lagu Rock n Roll Lady hingga lagu lainnya Overheat menggema di seluruh Lapangan Lumintang. Sorot lampu, dentuman musik, hingga alunan genre rock dari lagu turut membangkitkan suasa riuh penonton. 

Potret gitaris dan vokalis musisi White Swan yang memeriahkan panggung main stage 

Berlanjut, antusiasme tak surut dengan sajian musik Rebellion Rose yang bergenre pop hingga rock terdengar di panggung utama. Alunan musik keras dan suasana malam yang kian larut justru menambah semangat pengunjung untuk menikmati sajian di panggung musik di hari pertama D’Youth Fest 3.0.  

Rebellion Rose dengan membawa genre pop hingga rock turut mengguncang panggung main stage di hari pertaa D’Youth Fest 3.0

Serangkaian kegiatan di panggung Main Stage ditutup dengan dendangan musik koplo khas Barong Boys yang membawakan lagu – lagu hasil kreasi dari musisi – musisi Bali hingga tanah air. Mulai dari fortune cookies dari JKT 48, Puputan Badung karya XXX, hingga musisi Internasional berjudul Narco. 

Suasana penonton dikala musik dari band – band legendaris mulai terdengar di main stage

Alunan terompet lagu Narco turut menyatukan seluruh penonton untuk sama – sama merayakan ditutupnya panggung kreativitas anak muda Kota Denpasar di Main Stage hari pertama sekaligus dibukanya rangkaian acara D’Youth Fest 3.0 selama satu hari kedepan.

Media Release

Workshop Crochet : Merajut Kreativitas lewat Untaian Benang

Bangkitkan kembali seni rajut, D’Youth Festival 2023 sediakan kesempatan merajut melalui Workshop Crochet bersama Volen Artspace di Lapangan Lumintang Jumat (20/10)

Tangan perempuan-perempuan dengan jarum besar menari lihai, merajut benang-benang tebal berwarna warni. Tua muda, meretas batas usia mengenang kembali memori hangatnya rajutan nenek. D’Youth kali ini menyediakan ruang nostalgia sekaligus ruang berkreatifitas dengan menghadirkan Volen Artspace bekerja sama dengan BeCraft untuk menarik minat generasi muda menggeluti crochet atau seni rajut.

Workshop Crochet yang dihadiri peserta dari lintas generasi mulai dari anak – anak hingga orang dewasa di panggung kreativitas Youth Land 

Esmeralda dari Volen Artspace yang mengisi kegiatan Workhop Crochet serta mendampingi peserta pada sesi praktikal mengungkapkan kecintaannya pada seni rajut bermula dari sering melihat neneknya merajut. Kecintaan itu tumbuh hingga saat ini, ia menyebut produk rajut dapat masuk ke banyak segmen dan diminati banyak orang. Namun, ia menyayangkan minat generasi saat ini untuk menekuni dunia seni rajut justru tidak banyak.  “Sebenarnya dari kecil itu nenek saya suka banget ngerajut, tapi anak muda kayaknya nggak ada yang  mau belajar rajut karena kayanya kesannya kuno.” tutur Esmeralda (20/10). 

Esmeralda sebagai perwakilan dari Komunitas Volen Art Space memberikan pelatihan kepada peserta yang ingin belajar membuat kerajinan rajut. 

Sebab itu, Esmeralda dengan Volen Artspace berusaha membangkitkan  lagi minat terhadap seni rajut, salah satunya melalui Workshop Crochet yang diadakan di lapangan Lumintang, Denpasar. Pada kegiatan tersebut terlihat peserta berasal dari lintas generasi, salah satunya Yohana wanita yang menginjak kepala lima ini terlihat antusias belajar merajut. ”Umur kan nggak menentukan kapan kita bisa belajar,” ucapnya bersemangat.

Peserta dari lintas generasi antusias mengikuti workshop dan praktikal crochet dalam rangkaian helatan D’Youth Festival 2023.

Sementara itu, Gek Win gadis berusia 15 tahun terlihat mahir meski baru pertama kali belajar merajut, ia mengaku tertarik setelah menonton video crochet di media sosial. Dengan wajah berseri Gek Win menyampaikan kesannya setelah mengikuti praktikal crochet oleh Volen Artspace, “senang banget,baru pertama kali ikut tapi udah belajar sejauh ini, belajar dasar-dasar juga.”  ungkapnya sekaligus menutup wawancara di Panggung 

20232010_Film Festival_Suasana Festival (1)
Media Release

Makin Dekat Film Festival hingga Youth Park Amphitheater: Memperkuat Ekosistem dalam Kancah Perfilman Bali

Film – Suasana panggung Makin Dekat Film Festival dikala pemutaran film, tampak pengunjung
yang duduk menikmati sajian film melalui layar proyektor.

Geliat pertumbuhan film di Bali kian mengalami gejolak seiring dengan perkembangan teknologi, hal ini tampak dari lahirnya berbagai gagasan menarik dari segi visual maupun konsep yang mengalami perubahan dari tahun ke tahunnya. Salah satunya melalui pemutaran film di panggung Makin Dekat Film Festival yang berlokasi di Taman Kota, cetusan unik ala Bali tempo dulu dikemas menjadi sebuah dokumenter yang mengajak pengunjung untuk bernostalgia dengan perfilman khas masa lampau.

Dalam perhelatan Makin Dekat Film Festival pada D’Youth Fet 3.0, Arsip Bali 1928 menghadirkan suguhan film dokumenter Bali era tahun 1930-an. Film dokumenter yang ditayangkan pada perhelatan D’Youth Fest 3.0 merupakan film bisu yang dibuat oleh Colin McPhee. Film ini bercerita mengenai lingkungan alam dan masyarakat di Bali tahun 1930-an dari berbagai aspek budaya, tradisi, hingga kehidupan sehari-hari.


Arsip Bali 1928 merupakan kolaborasi internasional yang memadupadankan berbagai pusat arsip di dunia untuk memulangkan arsip-arsip, seperti film, foto, dan dokumen bersejarah yang berkaitan dengan Bali pada masa 1928-an. Koordinator Proyek Arsip Bali 1928, Marlowe Bandem merintis pendirian Arsip Bali 1928 memiliki tujuan dalam repatriasi, restorasi, dan penyebaran dokumen bersejarah Bali pada masa 1930-an yang tersimpan di luar negeri.

Cetusan Arsip Bali 1928 menjadi catatan yang tak ternilai bagi perjalanan budaya dan kehidupan masyarakat Bali. Banyak kalangan masyarakat Bali yang ingin mengingat kembali suasana dan kondisi masyarakat atau kultur budaya Bali tempo dahulu. Hingga saat ini, Arsip Bali 1928 telah mengembalikan sebanyak 111 rekaman berupa film maupun audio terkait seni budaya Bali yang tersimpan di luar negeri. “Karya-karya lain yang juga dipulangkan berupa rekaman gamelan dan tembang sebanyak 111, ragam cuplikan Bali 1930 dengan durasi selama 15 jam, dan 75 foto cetak yang telah direproduksi,” ujar Marlowe Bandem, Jumat (20/10).


Selain dokumenter Bali era 1928-an, Makin Dekat Film Festival turut menyuguhkan konsep film yang diadaptasi dari kehidupan masyarakat Bali yang digagas oleh Searah Creative Hub. Sebuah kelompok yang terbentuk dari keresahan akan minimnya kesadaran industri kreatif di Bali khususnya dalam bidang perfilman. Menurut penuturan Ketua Komunitas Searah Creative Hub, Dodek Sukahet, Searah Creative Hub dapat menjadi wadah bagi para penggiat film di Bali untuk mengembangkan kreativitas dan daya saing dalam kancah perfilman.

Talkshow – Sesi talkshow bersama ketua komunitas Searah Creative Hub di panggung Makin Dekat
Film Festival

Dodek Sukahet selaku Ketua Komunitas Searah Creative Hub menuturkan tujuan pembentukan komunitas tersebut, “Searah Creative Hub dibentuk untuk menumbuhkan ekosistem film di Bali agar keberadaannya dapat lebih diperhitungkan,” ujar Dodek pada wawancara di Makin Dekat Film Festival (20/10).


Sebagai pemantik, pada perhelatan Makin Dekat Film Festival ini, Searah Creative Hub
membawakan dua film unggulannya dengan tajuk Mejaguran yang telah melanglang buana dalam ajang Festival Film Bulanan. Film Mejaguran menjadi garapan yang bernuansa laga, “Film Mejaguran ini timbul sebagai pemantik karena kami terfokus pada action scene dengan sedikit kiasan komedi yang mana dari segi cerita digagas dari keberadaan ‘ormas’ di Denpasar yang kian mencuat,” ungkap Sutradara film Mejaguran, Herda Martin, Jumat (20/10).


Film sukses lainnya yang turut dibawa yaitu How Does It Sound? yang berhasil menembus 26 besar dalam ajang Festival Film Indonesia. Berbeda dengan Mejaguran, film “How Does It Sound ?” mengangkat isu-isu yang ada di Bali, salah satunya adalah tragedi bom Bali. “Kami ingin menggagas sebuah film mengenai isu-isu yang ada di Bali, tetapi tanpa menyinggung dan membuka kembali perasaan korban penyintas bom Bali tersebut,’ ujar Herman selaku Produser film. Searah Creative Hub saat ini telah memiliki 6 film garapan dengan berbagai latar suasana serta genre yang berbeda – beda, yakni Pojok Penantian, Back to The Beat, Back to The Star, How Does It Sound?, Kacang Dari, Lobus, dan Mejaguran.


Berlanjut ke gedung DNA, penggiat perfilman turut meramaikan panggung Denpasar Documentary Film Festival (DDFF) di pelaksanaan D’Youth Fest 3.0 tahun ini. Anak Agung Gede Rai Putra Bawantara selaku inisiator Denpasar Documentary Film Festival turut menjelaskan bahwa ini merupakan penyelenggaraan DDFF yang ke-14, yang sekarang digabung dengan pelaksanaan Dyouth Festival, juga dengan salah satu acaranya, yakni Makin Dekat Film Festival.


DDFF menjadi salah satu ajang film dokumenter yang disokong oleh Pemerintah Kota Denpasar untuk meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap film dokumenter dengan cakupan edukasi, apresiasi, kompetisi, literasi, dan eksibisi, untuk peserta dari seluruh Indonesia. Bawantara menjelaskan mengenai salah satu tujuan timnya membangun DDFF, “Film dokumenter itu utamanya adalah media yang bisa merekam, situasi di sebuah zaman secara autentik, sehingga 14 tahun yang lalu kami menyelenggarakan itu untuk bagaimana mengabadikan apakah itu situasi, gagasan, pikiran, supaya kita punya arsip yang autentik tentang hal itu,’ jelasnya saat wawancara pada Jumat (20/10).


Sejak tahun 2013, DDFF menjadi ajang kompetisi film dokumenter tingkat SMP dan SMA/SMK yang diselenggarakan oleh Organisasi Kota-kota Pusaka Dunia (OWHC). Penikmat film yang ditayangkan oleh DDFF pun datang didominasi oleh kalangan anak muda tampak masih menduduki bangku sekolah.

Pengunjung – Suasana di luar panggung Community Area di Gedung Dharma Negara Alaya

Kali ini, DDFF 2023 membagi acara menjadi dua sesi, dimana pada sesi pertama dihadiri oleh sekitar 88 pengunjung yang dimulai pada pukul 17.30 Wita dan sesi kedua dihadiri oleh sekitar 90 pengunjung yang dimulai sekitar pukul 19.30 Wita. Setiap sesi akan diputarkan enam film dokumenter berbeda. Pada sesi satu, pemutaran film pertama dimulai dengan film Nguri Uri yang membawakan tentang Kirab Budaya Boyong Oyod Genggong yang di adakan di Desa Kalilunjar. Dilanjutkan dengan pemutaran film dokumenter Sang Punggawa Laut Sumbawa, Penjor, Memorie of Moluca, Pejuang Jarkapung, dan ditutup dengan film yang mengisahkan budaya unik di salah satu Desa di Karangasem, yakni berjudul Darah Bali Aga.

Pemutaran Film Dokumenter berjudul Penjor pada acara Denpasar Documentary Film Festival

Berlanjut di sesi dua, film dokumenter yang diputarkan tidak kalah menarik dengan sesi awal.
Dimulai dengan pemutaran film Lahbako, lalu Story Bus Scalper, Ludruk Dahulu Kini dan Nanti, Topeng Dalang Klaten, Wullu Poddu dan Padi, hingga terakhir ditutup dengan pemutaran film dokumenter Rahasia Fixer. DDFF ini juga dihadiri oleh Ibu Halida selaku produser film Darah Bali Aga dan Rahasia Fixer. Tak hanya itu, produser film dari Prancisjuga turut hadir, yakni Mr. Hendry.

Mr.Hendry sebagai salah satu produser film yang turut hadir dalam acara Denpasar Documentary
Film Festival pada saat sesi tanya jawab

Pagelaran film mulai dari panggung Makin Dekat Film Festival hingga Community Area dalam D’Youth Fest 3.0 harapannya akan membuka peluang bagi masyarakat yang ingin mengulik lebih dalam mengenai dunia perfilman khususnya yang berkembang di Pulau Bali. Tak hanya hadir dengan konsep yang menarik, ekosistem yang kian diperbarui dalam kancah perfilman tentu menjadi potensi utama yang dapat mendukung daya saing perfilman masa kini.

20231020_ESI Land Denpasar_Esport 3
Media Release

Gelora Anak Muda di Pertandingan Sengit Esport Indonesia Denpasar

Perlombaan sengit dari ajang E-Sport Indonesia (ESI) Denpasar menjadi salah satu event yang dinantikan oleh para penggemar game online. Tampak tim dari berbagai Sekolah Menengah Atas (SMA) yang ada di Bali berbondong-bondong meramaikan Amphiteater Taman Kota sejak pukul 18.00 Wita. Terdapat dua pertandingan game online yang diselenggarakan, yakni match Mobile Legend yang dilaksanakan dengan dua kali match dan Mortal Combat. Selain pertandingan kedua game tersebut, para pengunjung juga dapat mencoba permainan Tekken 7 yang berada di dekat venue.

Peserta pertandingan Mobile Legend di acara E-Sport Indonesia Denpasar

Perlombaan ini dihadiri oleh peserta dari 18 SMA dan SMK yang ada di Bali diantaranya SMAN 4 Denpasar, SMAN 1 Kuta, hingga SMK Saraswati 2 dan masih banyak lainnya. Setiap sekolah mengirimkan satu perwakilan tim yang berisikan enam peserta termasuk satu orang cadangan. 

Pendukung peserta yang sedang menyaksikan jalannya pertandingan

Saat pertandingan dimulai, pengunjung nampak histeris karena tim yang didukungnya sedang sengit. Salah satu pengunjung tampak sangat menikmati pertandingan. Gek Diah, yang merupakan salah satu mahasiswa di Bali, mengaku bahwa Ia berkunjung kesini memang untuk menonton pertandingan Mobile Legend ini. Dirinya juga kebetulan termasuk salah satu penggemar game online. “Seru sih. Emang suka main game makanya dateng,” tutur Gek Diah pada Jumat (20/10).

Peserta dari Tim SMA Negeri 11 Denpasar

Menuju akhir pertandingan, terlihat salah satu tim yang mengenakan baru seragam dengan bertulisan SMA Negeri 11 Denpasar sudah berada di luar tempat pertandingan. Andra, salah satu pemain dari tim SMA Negeri 11 Denpasar yang mengatakan bahwa tim nya sudah gugur saat semifinal. Namun bagi timnya , pertandingan ini tetap menyenangkan dan bermanfaat bagi dirinya dan tim. “Seru, bisa masuk semifinal. Manfaat ikut kegiatan ini dapat pengalaman baru, membangun chemistry dengan tim, dan dapet cuan buat bekal diri sendiri,” jelas Andra pada Jumat (20/10).

Para peserta yang lolos pada pertandingan di hari pertama nantinya akan lanjut untuk berlaga di hari kedua D’Youth Fest 3.0, guna menentukan pemenang dari kompetisi E-Sport di Panggung ESI Denpasar. 

Media Release

D’Youth Fest 3.0: Kembali Muda dan Penuh Karsa di Panggung Kreativitas Pemuda Kota Denpasar

Panggung kreativitas anak muda kembali hadir di tengah – tengah masyarakat Kota Denpasar sebagai bentuk perayaan bagi seluruh anak muda yang telah menjadi pelopor perubahan, mendorong batas kreativitas, dan membangun komunitas-komunitas berbakat. Denpasar Youth Festival 2023 (D’Youth Fest 3.0) terselenggara kembali dengan semangat yang terus dituangkan, hingga kini memasuki pelaksanaan untuk ketiga kalinya. D’Youth Fest 3.0 menjadi sebuah wadah untuk memfasilitasi kegiatan anak muda serta menampung kreasi dari komunitas kreatif . Kehadiran D’Youth Fest 3.0 merupakan bentuk apresiasi dan upaya untuk membentuk sinergitas dalam sebuah ruang seni milenial khas anak muda di Kota Denpasar. 

Hingga kini Kota Denpasar terus konsisten menjadi poros pembangunan ekonomi kreatif yang didukung oleh pengembangan potensi generasi muda. Generasi muda yang memiliki karakteristik yang kreatif, adaptif, inovatif serta berani menyuarakan gagasan menjadi pondasi awal  membangun Kota Denpasar sebagai kota kreatif berbasis budaya. Kota Denpasar yang memiliki ratusan kelompok pemuda – pemudi serta komunitas yang diinisiasi oleh anak muda menjadi salah satu bentuk penguatan jati diri anak muda dalam menciptakan aksi untuk menghasilkan sebuah visualisasi karya cipta. 

I Gusti Ngurah Jaya Negara, S.E. selaku Wali Kota Denpasar menyampaikan penyelenggaraan D’Youth Fest 3.0 menjadi kolaborasi kreatif yang dapat memantik kembali semangat anak muda sehingga kegiatan ini menjadi momentum penting untuk dilaksanakan secara berkelanjutan, “Kreatifitas tidak boleh padam, pemerintah kota terus mendorong agar kreativitas dapat terus tumbuh,  artinya D’Youth Fest 3.0 memberikan ruang agar anak muda selalu berkreatifitas dan berinovasi, sehingga akan berdampak ke berbagai sektor salah satunya sumber pendapatan daerah yang juga nantinya akan tumbuh sendirinya” ungkap Jaya Negara. 

Hadir pertama kali pada tahun 2021, Denpasar Youth Festival mulai dikenalkan sebagai bentuk inisiasi untuk mendukung stimulus ekonomi di  kala pandemi Covid-19. Antusiasme masyarakat di tengah keterbatasan ruang gerak dan perputaran ekonomi kreatif yang baik menjadikan pelaksanaan D’Youth Fest 2.0 kembali diselenggarakan bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda yaitu 28 Oktober. Melalui perwujudan nilai Vasudaiva Khutumbhakam (Kita Semua Bersaudara), Wali Kota Denpasar, I Gusti Ngurah Jaya Negara, S.E., dan Wakil Wali Kota Denpasar, Kadek Agus Arya Wibawa, S.E, M..M. mendorong pembentukan konvergensi kreatif antar sektor kehidupan sehingga dapat mengembangan kembali 16 subsektor ekonomi kreatif di Kota Denpasar, yang kemudian diwujudkan melalui pelaksanaan Denpasar Youth Festival 3.0 di tahun 2023. 

Walikota –  I Gusti Ngurah Jaya Negara, S.E. selaku Walikota Denpasar menyampaikan makna dan harapan di balik helatan D’Youth Festival pada Press Conference di Dharma Negara Alaya

 I Gusti Ngurah Jaya Negara, S.E. mengungkapkan aktualisasi jangka panjang penyelenggaraan Denpasar Youth Festival, “Sebelumnya sudah ada event – event selain D’Youth Fest ini ya, khususnya event anak muda yang hype di Kota Denpasar ada beberapa, maka dari itu diperlukan sebuah wadah untuk merangkul event – event serta komunitas ini sehingga terbentuk wadah untuk  menciptakan ruang gerak untuk menularkan imajinasi dalam bentuk kreasi dan serta wadah berkomunikasi, selain itu ini menjadi salah satu subsidi berupa event sebagai insentif produktif dari pemerintah kepada komunitas untuk sama – sama bergerak dan berkolaborasi meningkatkan ekonomi kreatif di Kota Denpasar sehingga terjadi perputaran ekonomi juga ada serta daya imajinasi dan kreasi terwadahi di event D’Youth Fest ini” ungkapnya. 

Tahun 2023 ini, Denpasar Youth Festival kembali menyalakan api semangat generasi muda di Kota Denpasar yang berhelat selama 1 bulan. Kegiatan dirangkaikan dengan Pre Event pada 14 dan 15 Oktober dengan kegiatan Tattoo Contest dan Modification Contest, Puncak Event selama dua hari pada 20 – 21 Oktober 2023, serta Post event akan ada pameran dari komunitas tanaman platycerium. Perayaan panggung kreativitas pemuda Kota Denpasar ini kembali terselenggara di lokasi awal pembentukannya, yaitu Areal Lumintang. Lokasi yang berada di sisi utara Kota Denpasar ini menjadi pilihan yang tepat dengan pertimbangan posisi Lumintang yang berada di pusat kota dengan areal ruang terbuka hijau yang diperuntukkan sebagai ruang rekreasi dan edukasi. Bergeser ke sisi timur, Youth Land Park turut menarik perhatian dengan adanya coworking space, mini food court, serta adanya pameran kreatif berupa foto, lukisan dan arsitektur yang menambah nuansa kreatif di Lumintang. 

D’Youth Fest 3.0 diinisiasi oleh Pemerintah Kota Denpasar melalui Dinas Pariwisata Pemerintah Kota Denpasar, untuk mewadahi derap kreatifitas anak muda yang kian menyala di Kota Denpasar sebagai salah satu creative hub Bali atau pusat perekonomian, perdagangan dan pusat komunitas. Pemilihan mata acara turut disusun dengan apik melalui semangat “dari komunitas, oleh komunitas, untuk komunitas”, sehingga nantinya D’Youth Fest 3.0 dapat mewadahi ide dari komunitas dan merangkul seluruh elemen masyarakat melalui penciptaan ruang komunikasi dan membangun kolaborasi di dalamnya. 

Dalam mensukseskan pelaksanaan D’Youth Fest 3.0, beberapa komponen turut disediakan oleh Pemerintah Kota Denpasar, salah satunya berupa anggaran. Sumber dana yang digunakan dalam penyelenggaraan D’Youth Fest 3.0 berasal dari dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) sebesar 1,8 Miliar dan didukung dari dana sponsorship serta tiket atau voucher makanan. PLT Kepala Dinas Pariwisata, I Gusti Ayu Laxmy Saraswati menyampaikan dana yang dianggarkan untuk pelaksanaan D’Youth Fest 3.0 telah melalui pertimbangan yang matang agar setiap kegiatan dapat terkemas dengan baik, “Alokasi dana ditujukan tidak hanya untuk puncak acara namun juga digunakan mulai dari pre-event, main event hingga pos event” Ungkap Ayu Laxmy. 

Spirit Denpasar Youth Festival 3.0 dalam Sebuah Ikon 

Secara spesifik, D’Youth Fest 3.0 mengangkat tema “Creativity in Diversity.  Pemilihan tema dilakukan dari penggambaran keberagaman kreativitas yang tercipta di Kota Denpasar yang kemudian mengisi relung – relung yang dibutuhkan Kota Denpasar untuk terus hidup dan menyala di tengah arus – arus perubahan. Keberagaman kreatifitas yang masih kokoh hingga kini lambat laun mengisi jiwa Kota Denpasar sebagai “The Heart of Bali”. 

Tema tersebut turut bertalian dengan ikon Denpasar Youth Festival yakni I Tengkek Ngindang yang direpresentasikan dengan burung raja udang biru yang sedang mengepakkan sayap. Visual  D’Youth Fest 3.0 menampilkan semangat kreatifitas generasi muda yang direpresentasikan dengan burung tenggek, sikap gesit dan kuat dari burung tenggek menjadi inspirasi dalam bersikap aktif untuk berkreasi dalam melestarikan budaya. Bunga Jempiring pada paruh burung menjadi simbol kebaruan dan kejernihan serta harapan yang dijunjung sebagai penuntun generasi muda dalam bersikap. “Kegiatan D’Youth Fest yang beragam dan berbeda dengan kegiatan sebelumnya, memang ada beberapa yang sama namun pembaharuan turut dihadirkan untuk memfasilitasi pemikiran dan ide dari komunitas itu sendiri,” ungkap I Gusti Ngurah Jaya Negara, S.E. 

Membangkitkan Daya Cipta melalui Ragam Panggung Kreativitas 

Press Conference – Pelaksanaan press conference Denpasar Youth Festival 2023 untuk mengenalkan festival muda bagi warga Kota Denpasar.

Mewadahi potensi generasi muda, ragam panggung kreativitas turut dihadirkan dalam perhelatan D’Youth Fest 3.0 tahun ini. Aktualisasi nilai “dari komunitas, oleh komunitas, untuk komunitas” diwujudkan dengan ragam mata acara antara lain konser musik, panggung hiburan, festival film,  community exhibition, competition, workshop , talkshow , serta mini games. Beberapa titik yang akan menjadi zonasi untuk pengemasan mata acara di D’Youth Fest 3.0 diantaranya: 

  • Lapangan Lumintang 
  • Taman Kota Utara 
  • Taman Kota Selatan 
  • Gedung Dharma Negara Alaya (DNA)

Pemilihan 4 zonasi secara rinci dikemas menjadi 7 titik pemanggungan antara lain,  Lapangan Lumintang sebagai Main Venue dengan pembagian beberapa stage antara lain Main Stage, Mini Stage, Youth Land, dan Community Side. Taman Kota bagian utara akan diperuntukkan sebagai stage Makin Dekat Film Festival, sementara itu Taman Kota bagian selatan akan menjadi Theater stage. Pada bagian Youthland Park yang terletak di Taman Kota akan diperuntukkan sebagai ESI Denpasar Area. Gedung Dharma Negara Alaya akan diperuntukkan sebagai Community Area

Ragam mata acara turut dikemas dengan apik selama dua hari pelaksanaan D’Youth Fest 3.0. Musisi legendaris mulai dari Settle, XXX, Aruma, Meiska, Leeyonk Sinatra, White Swan, Rebellion Rose, Barong Boys, Navicula, Koplosan, Kenya, Astera, Dumbleed, Lolot, hingga SID turut menyemarakkan festival pemuda Kota Denpasar di Main Stage. Musisi anyar pun turut mengisi panggung Mini Stage mulai dari De Bansos, Revival, Moondial, Forgood dan lainnya. Pengunjung turut diajak menikmati suguhan edukatif mulai dari talkshow hingga workshop dari komunitas kreatif bersama pembicara yang ahli di bidangnya di titik pemanggungan Youth Land. Melepas penat dengan ragam film kreatif karya anak muda Kota Denpasar dapat dinikmati di titik pemanggungan Makin Dekat Film Festival. Kelompok teater remaja dari kalangan sekolah menengah hingga tingkat perguruan tinggi turut bergabung menghibur pengunjung di panggung Theater Taman Kota Selatan. Ragam aktivitas dari komunitas juga dapat dinikmati di titik pemanggungan Community Area dan Community Side. Terlibat pula komunitas E-Sport Indonesia Denpasar untuk mengisi titik pemanggungan di Youth Park Amphitheater

Manajemen Risiko dalam Bentuk Pengarusutamaan Lalu Lintas

Pemilihan Lumintang menjadi pertimbangan panjang dalam menyambut momentum tahunan anak muda Kota Denpasar. Berbagai ruang publik yang tersebar seluruh penjuru Kota Denpasar telah memiliki ciri khasnya masing – masing, dengan begitu Lumintang sebagai pusat aktivitas masyarakat dibangun juga untuk memiliki ciri khasnya dengan pelaksanaan yang konsisten dari Denpasar Youth Festival tiap tahunnya. Pemilihan lokasi telah disesuaikan dengan kebutuhan pemanggungan dan daya dukung yang tersedia, sehingga penonton yang hadir merasa nyaman ketika mengunjungi dan menikmati perayaan D’Youth Fest 3.0 nanti.  

Penataan parkir yang apik menjadi salah satu pertimbangan manajemen risiko untuk menjaga kondusifitas selama acara berlangsung. Beberapa titik parkir telah tersebar di kawasan Lumintang antara lain, Taman Kota di bagian utara, pelataran parkir Gedung Sewaka Dharma, Basement Gedung DNA, pelataran parkir Gedung Majelis Desa Adat, serta areal sekitar PWI. Kelancaran dalam pengaturan parkir tentu didukung oleh lembaga – lembaga terkait melalui kerjasama dengan beberapa pihak diantaranya, Dinas Perhubungan Kota Denpasar, pihak kepolisian, dan Perusahaan Daerah (PD) Parkir. 

Denpasar Youth Festival sebagai panggung kreativitas pemuda Kota Denpasar yang terbilang anyar menjadi momentum tahunan yang dibentuk untuk anak muda menyalurkan kreativitasnya kepada khalayak luas. Panggung kreativitas perlu dinyalakan kembali, peran generasi muda perlu dipantik untuk mengisi relung – relung tersebut.  “Melalui festival ini terjaring bibit – bibit generasi muda yang unggul, yang kedua bagaimana memberikan pemahaman kepada generasi muda bahwa wadah ini bukan hanya sekedar ajang hura – hura tetapi bagaimana kita memaksimalkan ini untuk generasi muda menunjukkan kreativitasnya sehingga dapat melenggang ke kancah yang lebih luas lagi tidak hanya nasional tetapi juga mencapai tingkat internasional,” tutup I Gusti Ngurah Jaya Negara, S.E. Konseptualisasi pemanggungan dan mata acara yang dituangkan di Denpasar Youth Festival akan menjadi rantai penghubung terhadap ruang kreativitas lainnya sehingga pintu komunikasi, kolaborasi dan berinovasi akan terus terbuka dan berkelanjutan. 

Media Release

Modification Contest: Gelaran Kreatif Pecinta Motor Modifikasi

Karya motor modifikasi tampak berjejer rapi nan cantik di parkir basement 2 Gedung Dharma Negara Alaya (DNA) Denpasar semenjak 14 hingga 15 Oktober 2023. Dari jejeran motor keluaran lama hingga model keluaran terbaru ikut serta pada kegiatan “Modification Contest” yang merupakan rangkaian kegiatan awal menuju D’Youth Festival 3.0. Pagelaran ini diinisiasi oleh Serigala Hypercrea Dewata (SHD) yang merupakan perkumpulan klub motor modifikasi di Bali. Bukan tanpa alasan, kontes ini hadir sebagai bentuk tekad SHD untuk merangkul banyak pecinta motor modifikasi di Indonesia.

Motor – Jejeran motor yang dipamerkan di basement 2 Gedung Dharma Negara Alaya untuk ajang Modification Contest pada Sabtu, (14/10).

Tak hanya kontes motor belaka, tetapi pecinta motor modifikasi juga hadir tuk menyaksikan berbagai motor yang dilombakan. Selain itu, kontes motor modifikasi tersebut juga disisipi dengan penampilan musik DJ dan battle modificator antara FR project dari Kalimantan Timur dengan RAYOS humble dari Jawa Barat sehingga secara langsung dapat membangkitkan animo pengunjung yang hadir kala itu. 

Secara lengkap, motor yang dilombakan dibagi menjadi 15 kelas yaitu, matic modif, matic fashion, matic daily use, proper pro, proper pemula, sunmori matic, sunmori bebek & sport, sport & bebek modif, 2/4 tak Restorasi original, 2/4 tak Restorasi fashion, mothai open, daily rookies thailook, killer paint, racing style open (street racing, herex style, drag style , RNS, dan lainnya), retro custom (chopper, bobber, sclamber ,tracker, cafe racer, choppy cup, japs style, dan lainnya). Kontes motor tersebut menggandeng dua juri yakni Tito Monster dan Duns Duta. 

Tak sedikit peserta dalam kontes tersebut, hal itu terbukti dari penuhnya basement Gedung DNA dengan berbagai macam desain dari beragam jenis motor. Podol selaku salah satu pengurus SHD Bali mengungkapkan antusiasme generasi muda dalam pagelaran tersebut, “Kontes ini ramai yang ikut, bahkan ada yang dari jauh, misalnya dari Jawa Barat, Jawa Tengah, hingga Kalimantan Timur,” paparnya. Disisi lain, Podol menjelaskan bahwa melalui kontes tersebut dapat dilihat jika motor modifikasi bukan hanya untuk sekedar gaya di jalanan, melainkan juga dapat show di berbagai macam kontes.  

Media Release

Denpasar Tattoo Contest 2023 : Mendobrak Stigma Tato, Goresan Seni Tubuh Abadi

Dharma Negara Alaya (DNA) tampak berbeda di akhir pekan, puluhan masyarakat mulai dari anak – anak hingga orang dewasa nampak lalu lalang menaiki tangga menuju sebuah tujuan. Gaya berpakaian ala skena dengan dominasi pakaian berwarna hitam, dipadupadankan dengan sepatu boots maupun sneakers, aksesoris yang mempermanis atasan maupun bawahan yang dikenakan, serta tentu saja nampak goresan tinta yang dikenal sebagai tato tercetak penuh konsep seni di kulit mereka. Denpasar Tattoo Contest 2023 menjadi sebuah momentum bagi seluruh seniman tato di Kota Denpasar berkumpul menampilkan bakat terbaik dalam mengkreasikan tato sebagai seni tubuh abadi. 

Bertempat di Gedung DNA, puluhan masyarakat tampak menyambut antusias pelaksanaan kompetisi tato yang diselenggarakan oleh gerakan kolektif seniman tato  Ink Movement. Beragam mata acara turut dirangkai dengan apik untuk memanjakan peserta serta pengunjung yang hadir. Pengunjung yang hadir akan disambut pertama dengan karya – karya elok dari seniman tato legendaris melalui kegiatan exhibition dan competition yang dilaksanakan oleh Inkdonesia Movement. 

Deretan hasil karya desain tato di Tatto Artist Exhibition yang dipajang di sepanjang ruang eksibisi Dharma Negara Alaya (DNA)

Putu Agus   Eka Putra Santika, selaku inisiator dari Denpasar Tattoo Contest 2023 menjelaskan terkait konseptualisasi kegiatan yang diselenggarakan selama dua hari tersebut, “Konsep di dua hari tersebut sebenarnya sama, tetapi dibedakan dari kategori, yang kemarin itu black and grey surealist dan black work ornament, sekarang color neotrad newschool dan asian style, sekarang kita ada talkshow kita mendatangkan tatto artist legend Bali itu namanya Pak De Wangaya yang sudah nato dari tahun 77, kita mendatangkan untuk ngobrol dan mendatangkan kilas balik bagaimana era pada masa itu,” Ungkap Santika atau yang akrab disapa Kink (15/10).

Kink selaku inisiator dari Denpasar Tatto Contest 2023 menceritakan konsep kegiatan selama dua hari penyelenggaraan di booth tato miliknya

Kegiatan eksibisi yang dilaksanakan secara indoor tersebut diisi oleh 17 seniman legendaris dengan keunikan guratan desain tato serta teknik aplikasi tato masing – masing, antara lain Kink dari Kinktattobali, Lolit Made dari Balitattooartgallery, July Arthaya dari Burgeon Blue Tattoo, Marmar dari Sangmong Tattoo Studio, Herpianto Hendra dari Fox Mulder Tatttoo, Viona Mallory dari Karma Mantra, Romi dari Rohornament, Deni Sentani dari Tridatu Tattoo, Prima dari Matatto Bali, Ode Surya dari Better Days Tattoo, Ibnu Suharyo  dari Tapawana Radjah Nusantara, Kadek Ngurah Mertayana dari Blur Tattoo Studio, Eka Mardys dari Sekala 369, Hendro Dewisura dari Luxuryink, Nyoman Hendra Permana dari Buch Tattoo, Lionk Irezumi dari Luxuryinkbali serta Dode Pras dari Lumina Tattoo Studio.  

Kink turut menyampaikan melalui kegiatan eksibisi tersebut bahwa Bali menyimpan banyak seniman – seniman lokal yang telah mendunia,  ”kita mau menginfokan dan mengkampanyekan kepada masyarakat bahwa kita di Bali ini punya banyak sekali artist lokal kita sudah sekaliber internasional, banyak yang sudah sering juara di tingkat internasional, banyak yang sudah sering diundang untuk tato expo di luar negeri, jadi itu yang ingin kita up bahwa tato bukan hanya dari negatifnya saja tetapi ini merupakan UMKM yang bisa membuat roda perekonomian bagus dan menyerap tenaga kerja,” Ungkapnya. 

Mulai dari mesin tato modern hingga tradisional turut memukau serta mengisi kemeriahan exhibition di Gedung DNA. Salah satunya teknik pembuatan tato tradisional dari Tapawana Studio yang turut menjadi daya tarik pengunjung di eksibisi tersebut. Ibnu Suharyo atau yang akrab disapa Wana mencoba mengenalkan kembali teknik pembuatan tato dengan alat tradisional khas suku dayak “pada eksibisi ini saya menggunakan hand tapping, teknik hand tapping itu tidak pakai mesin, kita pakai dua kayu yang salah satu bagiannya ada jarum dan kita ketuk, teknik hand tapping itu teknik tradisi nusantara yang dimiliki dari Dayak, dari Mentawai, Kalimantan, jadi teknik ini kami kembangkan lagi di dunia tato, saya ingin memperkenalkan kembali teknik leluhur dalam seni tato yang mungkin banyak orang mengenal dengan mesin, sedangkan dari jaman dulu kala tato sudah ada dengan teknik hand tapping” ungkap Wana pada wawancara Sabtu (14/15).  

Teknik Hand Tapping sebagai salah satu seni pembuatan tato tradisional khas suku Dayak, Mentawai, Kalimantan yang dibawa oleh Tapawana Radjah Nusantara pada Tattoo Artist Exhibition

Teknik hand tapping bagi Wana saat ini memang sudah tidak menjadi pilihan utama bagi pelaku seni tato mengingat proses pembuatan tato yang membutuhkan waktu lebih lama dibandingkan menggunakan mesin, selain itu juga desain yang akan dibentuk pada kulit  juga tidak bisa terlalu kompleks. Melalui kegiatan D’Youth Fest 3.0 bersama Ink Movement ini, Wana turut mengapresiasi momentum yang disediakan sehingga dapat mengenalkan kembali seni tato tradisional serta perkembangan seni di Denpasar. “Jujur aku sangat terkesan ikut acara D’Youth ini karena satu – satunya pemerintah daerah yang mau mendukung kesenian tato sekarang, sebelum – sebelumnya kita independent dan harapan saya pemerintah Indonesia perlu memikirkan seni tato agar bisa lebih disupport lagi, mungkin seni tato identik dengan kenakalan, kriminalitas tapi engga ini adalah industri seni yang sangat bagus” tutup Wana.  

Hasil karya seni tato nusantara yang dibuat dengan teknik hand tapping

Selepas meremajakan mata melalui karya seni tato legendaris di Tattoo Artist Exhibition, pengunjung turut dipukau dengan desain – desain tato dari kontestan yang tengah mengikuti ajang Denpasar Tattoo Contest yang juga diselenggarakan oleh Ink Movement. Denpasar Tattoo Contest tidak hanya menjadi sebuah perlombaan semata namun menjadi sebuah gerakan kolektif untuk mengkampanyekan kesenian tato, peserta yang berpartisipasi pun tidak hanya seniman lokal Denpasar namun juga diisi oleh seniman dari seluruh penjuru Bali dan luar Bali.  

Proses pembuatan tato oleh salah satu peserta yang tengah mengikuti Denpasar Tattoo Contest

I Kadek Mahendra selaku peserta turut menyampaikan motivasinya selama mengikuti kegiatan Denpasar Tattoo Contest 2023 tersebut. Baginya kegiatan – kegiatan seperti ini sangat bermanfaat khususnya menambah teman, relasi serta menambah wawasan seputar tato, “Saya merasakan tiap tahunnya melalui kegiatan ini pastinya menambah teman, setiap orang yang ikut pasti beda – beda jadi disana kita bisa improvisasi diri dimana kekurangan kita membuat tato, motivasi saya tentu saja menambah teman dan melatih skill” ucap Mahendra yang akrab disapa Jhon pada wawancara Sabtu (14/10). Ia turut menyampaikan kesan dan harapannya selama mengikuti kegiatan selama dua hari tersebut,”Merasa bangga bisa mengikuti acara kaya gini dan harapannya ya semoga tato tidak dipandang kriminal oleh masyarakat apalagi zaman sudah maju, teknologi sudah canggih, tato itu bukan hal yang kriminal tetapi sebuah seni” ungkapnya. 

Acara yang berlangsung selama dua hari tersebut disambut antusias oleh masyarakat, hal tersebut dibuktikan dari padatnya pengunjung di venue indoor dan outdoor Gedung DNA. Denpasar Tattoo Contest turut dimeriahkan dengan talkshow yang menghadirkan seniman – seniman tato legendaris untuk berbagi pengalaman seputar tato, antara lain Dodepras dari Lumina Tattoo Studio, marmar dari Sangmong Tattoo Studio, serta Seniman tato yang telah melebarkan sayap dari tahun 70 – 90 an Pak De Wangaya. 

Seniman tato legendaris mulai dari Marmar dari Sangmong Tattoo Studio hingga Pak De Wangaya seniman tato tahun 70-an turut menyemarakkan sesi talkshow di Denpasar Tattoo Contest 2023

Pak De Wangaya turut menceritakan perkembangan tato pada era awal ia mengembangkan di Bali,  “Sejak pertama kali saya bikin tato tahun 75 masih pakai alat manual dengan gagang kayu, berlanjut sampai bisa merakit sendiri mesin hingga tahun 83 akhirnya menggunakan mesin dengan hasil yang lebih bagus hingga pada akhirnya berkembang, namun perkembangannya tidak pesat, pada saat itu banyak pantangan, pada tahun itu tato dianggap kriminal, pada tahun 1984, setiap hari ada berita di koran pasti ditemukan mayat bertato, sehingga menyebabkan sepinya kembali usaha tato. Tahun 90-an lancar kembali hampir bangkit kembali, ada kejadian lagi bom bali I yang menyebabkan tato kembali sepi”ungkapnya. 

Pak De Wangaya turut menyampaikan harapannya akan perkembangan tato kedepannya, “Saya berharap tato ini diakui sebagai seni bukan kriminal, dulu saya buat kontes tato dilarang pada tahun 90 namun sekarang sudah bebas” menutup wawancara pada Minggu (15/10). Baginya perkembangan tato saat ini cukup diterima sehingga masyarakat khususnya pelaku seni tato dapat mengadakan kegiatan yang mewadahi seniman – seniman lokal. 

Kegiatan Denpasar Tattoo Contest 2023 pada Hari Minggu tersebut ditutup dengan pemilhan 5 besar peserta terbaik dari kontes tato dari kategori black and grey dan black work ornament, antara lain  Ketut Sandi dari Angel Eyes Tattoo, Broangga Tattoo dari Gold Gold Tattoo Bali, Tattoist Deka dari MTS Ink, Arisaninktattoo dari San Ink Tattoo, serta Aguzbegow. 5 kontestan terbaik lainnya turut dipilih untuk kategori color neotrad newschool dan asian style antara lain, Ketut Sandi dari Angel Eyes Tattoo, Yunadi dari Chytattoo Studio, Pande Krisna dari Bali Paradise Tattoo, San Ink dari San Ink Tattoo, serta HRSK.Ink Tattoo. 

Seluruh peserta terbaik nantinya akan mengikuti babak final di puncak acara D’Youth Fest 3.0 pada tanggal 20 – 21 Oktober 2023 nanti. Seluruh rangkaian kegiatan yang diadakan selama dua hari oleh Ink Movement tersebut, ditutup dengan alunan musik dari Gold Voice serta dendangan musik dari Pemoeda Soeka Karaoke. Denpasar Tattoo Contest yang menjadi rangkaian awal D’Youth Fest 3.0 tersebut menjadi sebuah perayaan bagi seluruh seniman – seniman tato di Kota Denpasar untuk berani mendobrak stigma dan menyuarakan bahwa tato bukanlah sebuah bentuk kriminalitas melainkan sebuah seni tubuh yang abadi.

Media Release

Dyouthfest 3.0

DYOUTH FEST: Memperingati Sejarah Kreativitas Kota Denpasar!

Selamat datang di DYOUTH FEST, sebuah perayaan yang tak hanya merayakan kreativitas pemuda, tetapi juga menghormati sejarah kota Denpasar sebagai tempat kelahiran kreativitas yang telah membentuk ekosistem ekonomi kreatif yang berarti.

Kota Denpasar telah menjadi poros sejarah di mana semangat kreativitas pemuda selalu menyala. Sejak zaman dahulu, pemuda di sini telah menjadi pelopor perubahan, mendorong batas kreativitas, dan membangun komunitas-komunitas berbakat. Inilah tempat di mana gagasan-gagasan berani menjadi kenyataan, dan inovasi menjadi landasan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

DYOUTH FEST merayakan sejarah ini dengan semangat yang membara. Kami memberikan penghormatan kepada generasi-generasi pemuda yang telah membentuk landasan bagi ekosistem ekonomi kreatif yang berkembang pesat di Kota Denpasar. Kami mempersembahkan panggung megah untuk para seniman, kreator, dan pelaku industri kreatif untuk bersinar.

Inilah saatnya untuk merayakan warisan kreativitas dan semangat juang pemuda yang telah membentuk masa depan cerah. Bergabunglah dengan kami dalam DYOUTH FEST, di mana sejarah bertemu dengan masa depan, dan kreativitas adalah matahari yang terus bersinar di langit kota Denpasar.